Sabtu, 27 Juni 2015

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Awesome Journey” Diselenggarakan oleh Yayasan Kehati dan Nulisbuku.com


AYYASH DAN PUTRI KECIL

Namanya Ayyash, dia adalah anak laki – laki yang paling manja di keluarga kerajaan hutan. Setiap harinya Ayyash hanya bermain saja. Ayah dan Ibunya  membiarkan anak semata wayangnya  itu bebas berinteraksi dengan siapapun.
Kerajaan hutan memiliki taman yang sangat luas, ditumbuhi dengan berbagai macam jenis tanaman belukar dan beribu macam bunga yang indah.
Setiap hari Ayyash selalu membawa setangkai bunga kohana kecil  yang unik ke kamarnya, namun kejadian aneh itu terulang lagi. Bunga kecil yang tak pernah layu itu menghilang . “Ayah…! Ibu…! Kan Ayyash sudah bilang, jangan pernah ambil bunga kecil di kamar Ayyash!” serunya. Ayyash berteriak – teriak di kamarnya. Karena bunga kecil itu sering hilang, sedangkan di taman sudah mulai langka.
Suatu pagi Ayyash bangun dari tidurnya. Matahari sepertinya malu – malu untuk mengeluarkan cahayanya yang indah. Karena malas, Ayyash masih terbaring di atas ranjang empuknya itu. Matanya fokus ke balik tirai jendela yang terbuka. Disamping jendela itu ada lobang kecil yang belum pernah di perbaiki ayahnya  semenjak Ayyash tidur dikamar itu. Ia melihat cahaya kecil keluar dari lobang itu.
Ayyash menarik selimutnya karena ketakutan. Dari celah – celah selimut itu, Ayyash masih memberanikan diri untuk mengintip cahaya putih yang keluar dari lubang kecil. Ayyash melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang gadis kecil berjalan menepi ke arah jendela dan mengambil bunga kohana dengan cepat. Belum sempat berbicara, gadis kecil itu menghilang sekejap mata.
Dengan bergegas, gadis kecil itu membawa bunga kohana keluar dari jendela dan berseluncur di atas dahan – dahan semak belukar. Ayyash berlari ke jendela, namun ia tak menemukan gadis kecil itu lagi. “Wah…! Aku mimpi kali ya! Mana ada gadis kecil seperti kurcaci itu di zaman sekarang.” Ujarnya sambil menggaruk – garuk kepala.
Gadis kecil itu berlari dengan cepat membawa satangkai bunga kohana. Dua ekor jangkrik melompat – lompat hendak merebut bunga kohana dari genggaman gadis kecil . Tap! Tap! Tap! Suara sepatu gadis itu dengan keras menghantam bebatuan kecil, sehingga membuat jakrik menghindar.
“Mama! Mama! Raissa mendapatkan Bunga kohana lagi,” ujarnya.
Ibu Raisa keluar dan mengambil bunga kohana dari tangan gadis kecil itu. “ Alhamdulillah, kamu luar biasa nak, syukurlah kita bisa makan hari ini.” Ibu Raissa bergegas lari kedapur dan memasak bunga kohana itu untuk keluarga mereka.
“Bu! Tadi saat Raissa mengambil bunga kohana di kamar manusia itu, sepertinya mereka tahu Bu,” ujarnya.
“Apa..!! manusia itu tau kalau kamu mengambil bunga kohana dari kamarnya? Gawat! Gawat! Ini sudah darurat. Kan Ibu sudah bilang, kamu boleh keluar tapi jangan pernah memperlihatkan diri kepada manusia.
“Papa! Papa! Bagaimana ini! sepertinya kita harus pergi dari rumah ini!” Ibunya Raissa terlihat cemas dan menghempaskan dirinya duduk di atas kursi kecil.
“Tenang Bu, sepertinya kita harus mencari jalan keluarnya. Satu – satunya adalah kita harus pergi dari tempat ini.  Malam ini Papa akan berpetualang untuk mengambil beberapa makanan di dapur manusia itu.”
“Papa mau pergi berpetualang? Raissa ikut pa,”Tanya gadis kecil itu.
“Baiklah, Papa akan membawa kamu berpetualang. Kamu harus mengambil gula di dapur manusia, papa akan membantumu.
Dengan sigap Raissa dan papanya mulai melompat –lompat di atas dedaunan kecil dan memanjat semak – semak belukar yang menjulang indah itu menuju ke arah dapur manusia. Sesampainya di dapur, dengan menggunakan pengait kecil, Raissa memanjat ke atas toples simpanan gula dan berhasil memasukkan gula putih ke dalam tasnya.
Kreet..! suara pintu terdengar seperti ada yang membuka. Raissa melihat Ayyash, anak raja kerajaan hutan itu masuk ke dapur. Raissa dan Ayahnya dengan cepat berlari ke arah jendela. Potongan gula kecil yang di kantongi Raissa terjatuh dan terhempas ke lantai. Ayyash memungut gula kecil itu, dan Ia melihat Raissa keluar dari jendela.
“Ayah! Apakah disini pernah hidup makhluk kecil?”
“Ya! Kira – kira 100 tahun lalu disini banyak manusia kecil. Bentuknya sama seperti kita, namun ukurannya sangatlah kecil. Dulu  Ayah dan Ibu pernah membuat rumah kecil untuk tempat tinggal mereka. Akan tetapi mereka sudah tak terlihat lagi. Apakah kau menemukannya anakku?”
“Sepertinya Aku melihatnya Ayah!”
“Jangan sakiti mereka ya! Sepertinya populasi manusia kecil itu sudah berkurang. Bersahabatlah dengan mereka. Ayah yakin merekalah yang mengambil bunga kohana di kamar Ayyash, karena bunga di taman itu sengaja Ayah tanam untuk mereka.”
Kemuadian Raja kerajaan itu pergi begitu saja meninggalkan Ayyash yang masih kebingungan. Ayyash masuk ke kamarnya dan melihat kea rah lobang kecil itu. Ayyash menaruh sepotong gula yang tak berhasil di bawa Raissa di depan lobang kecil itu.
“Bu! Sepertinya manusia itu baik bu! Gula yang Raissa jatuhkan tadi malam di tarok manusia itu di depan lobang kecil di kamarnya. Ini bu gulanya.” Raissa memberikan sepotong gula itu ke tangan Ibunya.
“Tidak! Tidak! Ini bahaya besar! besok pagi kita harus pergi dari rumah ini. Kita tidak boleh bertemu manusia.”
Mendengar perkataan Ibunya, Raissa berlari keluar rumahnya dan menuju ke taman. Seekor kucing mendekati Raissa dan berusaha untuk mecengkramnya. Raissa berlari ketakutan sehingga ia melompat ke atas dedaunan dan memanjat semak belukar.
Ayyash sedang duduk di depan jendela kamarnya sambil melihat ke arah langit yang di penuhi bintang. Raissa berteriak minta tolong dari luar jendela.
Ayyash tertegun melihat gadis kecil itu dan lansung membukakan jendela kamarnya. Raissa berlari dan bersembunyi di balik baju Ayyash tanpa rasa takut. Seekor kucing peliharaan Ayyash muncul di depan jendela. Ayyash mengambil kucing itu dan mengelusnya. Akan tetapi mata kucingnya masih saja mencari sesosok makhluk incarannya itu.
Ayyash mengeluarkan kucingnya dengan paksa dari kamar karena melihat gadis kecil itu bersembunyi di balik bajunya.
“Hellow..! kucingnya sudah pergi,” ujarnya. Raissa keluar dari balik baju Ayyash dan hendak berlari keluar jendela. Akan tetapi Ayyash dengan sigapmenutup pintu jendela. Raissa menggigil ketakutan.
“Aku tidak akan menyakitimu, siapa namamu?” Ayyash mengulurkan tangannya ke arah Raissa. “ Ayo..! naiklah ke tanganku, aku tidak akan menyakitimu.”
Dengan perlahan Raissa naik ke tangan Ayyash. Ia masih terliat murung, Ayyash tersenyum kepadanya. “Siapa namamu putri kecil?”
Raissa berusaha mengangkat kepalanya. “Namaku Ra.. ra.. Raissa,” ujarnya dengan gagap.
“Namaku Ayyash, salam kenal putri kecil. Aku tidak akan menyakitimu. Pulanglah! barangkali keluargamu sedang mencarimu.” Dengan bergegas Raissa berlari keluar jendela dan menuju ke kamarnya.
Kerajaan hutan sedang mengalami musim hujan, Raissa dan keluarganya tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk pindah dan pergi dari rumah kerajaan itu, karena akan banyak katak, ular, dan sejenis hewan lainnya yang berkeliaran di musim hujan yang akan mengancam nyawakeluarga kecil mereka. Semenjak saat itu juga Raissa berusaha meyakinkan kedua orang tuanya, bahwa manusia itu baik.
“Tidak Raissa! Tidak! Ibu dan Ayah tidak akan membiarkanmu bergaul dengan manusia. Setelah musim hujan kita akan pergi dari tempat ini. Dulu populasi kita banyak nak, tapi sekarang hanya tinggal kau, ayah dan Ibu. Manusia – manusia itu telah meracun  populasi kita dengan racun kecoa, dan bahkan banyak saudaramu menjadi korban mesin penyedot serangga.”
Raissa seolah – olah merasa gagal untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Namun ia sering berkunjung ke kamar Ayyash untuk mendapatkan berbagai jenis makanan. Raissa membawama kanan itu kepada Ibunya, sambil berarap keluarganya akan berdamai dengan manusia.
“Mulai dari detik ini, kamu tidak boleh keluar Raissa! Kamu jangan mudah percaya dengan manusia, mereka punya seribu macam tipu muslihat untuk menjebak kita. Ibu kan menjagamu di kamar. Untuk kedepannya Ayah akan mencarikan kita makanan.”
Seminggu berlalu, musim penghujan tak kunjung berhenti. Persediaan makanan meraka sudah mulai habis. Sedangkan Ayah Raissa tak dapat keluar, karena satu – satunya celah tempat mereka keluar di huni oleh beberapa katak.
Ayyash tak lagi melihat Raissa, ia bergegas berlari ke gudang dan mengambil payung. Ayyash berjalan menuju ke taman di samping kerajaan. “Raissa! Raissa! Kamu dimana?” ujarnya sambil berteriak – teriak di antara lobang yang ada. Ia berharap Raissa mendengar terikannya.
“Apakah Raissa dan keluarganya telah punah? Ah! Itu tidak mungkin.” Ayyash masih terus mondar – mandir di taman samping kerajaan.
“Bu! Persediaan makanan kita sudah habis. Apakah Ibu tak saying padaRaissa. Izinkan Raissa untuk bertemu manusia itu Bu. Mereka baik pada Raissa, dan kita bisa hidup dengan tenang dan mendapatkan banyak makanan Bu.”
Ibu Raissa tak dapat berkata apa – apa lagi, Akhirnya Raissa mendapatkan izizn untuk keluardari rumahnya. Dengan sangat hati – hati Raissa berjalan di antara katak yang tertidur dengan pulas. Ia berlari menuju ke kaki Ayyash dan berusaha memanjat ke krah bajunya.
“Hei! Kamu mencariku?” tanyanya.
“Astagfirullah!” Ayyash terperanjak kaget melihat Raissa putri kecil itu sudah berada di pundaknya.
“Kamu kemana saja? Apakah kamu dan keluargamu mendapat makanan?”
Raissa tidak menjawab pertanyaan Ayyash. “Baiklah, aku akan memberikanmu  makanan dan mengantarkanmu ke pintu rumahmu.”
Setelah mendapatkan makanan, Raissa di antar ke lobang kecil tempat tinggal mereka. Selama musim hujan Raissa dan keluarganya makan dari hasil pemberian Ayyash.
“Bu! Sudah hampir satu bulan musim penghujan datang, dan semenjak itu juga kita makan dari hasil pemberian manusia. Besok pagi kita akan memenjat ke semak – semak belukar di samping kamar Ayyash. Kita harus menemui mereka walaupun masih dalam keadaan hujan deras. Ayah akan berusaha untuk mengusir jangkrik dan katak yang menghalangi kita untuk keluar dari rumah ini.
Keesokan harinya Raissa dan keluarganya berusaha untuk keluar rumah, mereka berlari dengan cepat dan bergantungan di antara semak semak belukar menuju ke kamar Ayyash. Sesampainya di jendela kamar, Ayyash menyambut mereka dengan hangat dan memberikan beberapa potong makanan.
Ayyash mengulurkan tangannya, Raissa dan keluarganya naik dan duduk di atas tangan Ayyash.
“Ayah! Ibu! Ayyash masu bicara,” ujarnya. Oaring tua Ayyash bergegas masuk ke kamar Ayyash.
“Ada apa nak? Apakah kamu membutuhkan sesuatu?”
Ayyash tak menjawab pertanyaaan kedua orang tuanya. Secara spontan Ayyash mengacungkan tangannya kepada Ayah dan Ibunya untuk memperlihatkan apa yang ada di tanggannnya. Ayyash memperkenalkan Putri kecil Raissa dan keluarga kecil mereka kepada Ayahnya.
Semenjak hari itu Raissa dan keluarganya tinggal di dalam istana kecil di dalam kerajaan. Istana kecil itu dilengkapi dengan berbagai pernak – pernik isi rumah layaknya tempat tinggal manusia.
“Raissa! Raissa! Ayah membuatkan ramuan khusus pengecil badan. Kita bisa mengajak  Ayyash dan keluarganya untuk berpetualang. Sekarang kamu tawarkan ramuan ini kepada mereka ya,” ujar Papa Raissa.
Raissa mengambil ramuan itu dan memberikan kepada keluarga Ayyash. Sejak hari itu, kerajaan hutan sering berpetualang dan melakukan perjalan luar biasa bersama putri kecil. Mereka bermain dengan girang, molompat di antara dedaunan semak belukar, memakan bunga kohana, serta memerangi katak, jangkrik, ular, dan binatang lainnya bersama keluarga kerajaan.
TAMAT



Sabtu, 21 Maret 2015

Sosok yang Menginspirasi


Ibuku adalah sosok yang luar biasa. Mampukah aku sepertinya? Aku masih ingat, di pagi hari yang cerah itu Ibu sudah mulai menghidangkan makanan untuk kami makan. Aku dan kedua adikku ingin sesegera mungkin untuk mulai menyantap sarapan pagi itu. Adikku Aziz dan Febria makan dengan lahap. Ketika kami sedang makan, Ibu hanya melihat saja. Akupun mulai menyadarinya, ternyata sambal hanya sedikit, hanya untuk kami saja. Aku menatapnya sembari berkata, "Ibu tidak makan?"
“Ibu sudah makan, kalian lanjutkan saja dulu"
***
Hari itu adalah hari Minggu, Aku hendak meminta uang untuk keperluan kuliah kepada Ibu, "Ibu, Nia besok akan ke Padang, tetapi tidak ada uang".
"Ibu sudah ada uang nak, besok sebelum berangkat ke Padang akan Ibu berikan."
Akupun menyadarinya. Ibu benar benar tidak ada uang, dan akhirnya meminjam ke pada tetangga. Hanya saja Ibu tidak mengatakannya. Aku tau, setiap hari Ibu pastri kelelahan. Namun masih saja terlihat tegar dan kuat di hadapan kami. Aku tau, Ibu adalah pembohong! sengaja berbohong agar kami tidak merasa sedih. Aku tau, Ibuku tak punya pendidikan yang tinggi. Namun beliau adalah orang sukses. Sukses kenapa? Ibuku telah sukses menjaga amanah titipan Allah yaitu Aku dan kedua adikku Febria dan Aziz.
Mampukah aku sepertinya? Bahkan ketika Aku di hadapkan dengan berbagai ujian, Aku sering merasa mengeluh, seolah olah tak ada harapan. Ketika Aku di uji, aku sering kali meneteskan air mata karena Aku benar benar tak mampu lagi untuk membendungnya. Jauh berbeda dengan sikap Ibu.
Aku merindukannya.
Aku benar benar merindukannya.
Aku ingin melihat senyumannya.
Aku ingin melihat semangatnya.
Namun aku tak bisa berbuat, selain ku titip do'a kepada-Nya.
kepada Dia Sang pemilik jiwa-jiwa..

Di Pematang Sawah


Sebelum berangkat ke sawah pagi ini, Aku tak lupa memasang manset, kaus kali dan kerudung. Aku berjalan dengan santai menelusuri semak belukar, dan sesekali berlari – lari kecil mengikuti langkah kaki Ibu. Ibu berjalan dengan sangat cepat, “ Ibu! Tunggu Nia.”
“Cepatlah nak, Ibu sudah terlambat.”
Akhirnya aku berlari mengejar Ibu. Jalan yang biasa di tempuh Ibu berangkat bekerja hanyalah jalan setapak. Di samping kiri dan kanan jalan itu di penuhi semak belukar. Hanya cukup dilalui satu orang saja. Di sepanjang perjalanan, tidak ada hiruk pikuk suasana jalan yang biasa terdengar. Yang ada hanyalah kicauan burung yang terdengar merdu, embun pagipun masih belum kering.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya aku dan Ibu sampai di sawah. Tampaknya Ibu berjalan dengan tenang. Akupun berlari mengejarnya dan Brukk! Aku terjatuh ke dalam sawah. Akhirnya seluruh tubuhku berlumuran lumpur sawah yang baru saja di garap. Ibu melihat ke belakang, “ Nia kenapa mencebur kesawah?”
“Nia, tidak mencebur Ibu, Nia Jatuh dari pematang sawah”
“Makanya, kalau jalan itu hati – hati. Jadi basahkan anaknya Ibu. Lihat tuh! Bajunya sudah kotor semua” haha.
Oh, no. Sepertinya Ibu benar – benar senang melihat aku jatuh kesawah.
            Ibu mana yang mau menertawakan anaknya masuk ke dalam sawah? Ibu mana yang meninggalkan anaknya yang berlumur lumpur begitu saja? Tidakkah Ibu berniat untuk mengulurkan tangan dan membantu?. Lagi dan lagi, aku terus menggerutu di dalam hati.
Aku berusaha untuk naik ke pematang sawah, dan berjalan mengikuti Ibu. Ibu sudah duduk di atas kursi panjang di dalam gubuk kecil yang berdiri kokoh di tengah – tengah sawah. Sesekali aku melihat ke depan, Ibu masih saja tersenyum lebar menyaksiskan aku yang berlumuran lumpur sawah. Aku terus berjalan,”Nia! Cepatlah kemari! Duduklah di samping Ibu.” Aku berjalan cepat dan lansung duduk di samping Ibu. Lagi dan lagi Ibu tersenyum dan tertawa. Haha!. Aku hanya diam saja.
“Bagaimana rasanya masuk sawah? Enak? Aku hanya diam dan memasang wajah cemberut kepada Ibu.
“Begitulah nak, ketika kita bermain ke sawah resikonya baju kita menjadi kotor. Kita tidak pernah mengenakan pakayan yang bersih, memakai dasi, menyandang tas serta sepatu yang mengkilat. Tetapi inilah kita nak. Di luar sana, banyak orang yang membayangkan petani hanya sebagai sosok hitam, kurus, memakai baju lusuh dan topi segitiga di kepalanya. Tapi bayangkan apa jadinya negara tanpa kehadiran para petani. Nia, apakah kamu merasa bangga jika Ibu dan Ayah adalah petani?
“Iya Bu, Nia merasa bangga. Bagi Nia Petani adalah sosok yang luar biasa Bu. Tampa kita, boleh jadi orang – orang kaya itu bukanlah apa – apa Bu.” Ibu tersenyum dan mengusap kepalaku.
“Ibu senang ya kalau melihat Nia jatuh ke sawah?”, “Tidak nak, bukan begitu,hanya saja Ibu kagum dengan putri Ibu yang satu ini. Ibu yakin, suatu saat kelak Nia akan jadi sarjana yang sukses. Sudahlah! Anak Ibu pasti kedinginankan? Ayo ganti baju sana! Tadi Ibu sengaja membawa baju untuk Nia.”
“Terimakasih Bu, Nia akan membersihkan lumpur ini dulu ke sungai. Ibu makanlah dulu sebelum bekerja. Dah Ibu!” Aku berlari menuju ke ke sungai dan membersihkan lumpur yang menempel ditubuhku. Aku merasa sangat bersyukur punya Ibu seorang petani, dan merasa menyesal karena kesal melihat Ibu yang tidak membantuku keluar dari sawah. Nikmat Allah itu benar – benar luar biasa. Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan.

Jumat, 20 Maret 2015

Ya ALLAH

Bismillahirrahmaanirrahim,,,
Ya Allah, jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada sesorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-Mu,,
Ya Muhaimin, Jika aku jatuh hati, izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya terpaut pada-Mu, agar aku tak terjatuh dalam jurang cinta nafsu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling dari hati-Mu.
Ya Rabbul izzati, jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui Syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu, janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-Mu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada  kekasih-Mu, jangan biarkan aku tertatih dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu...( Zinnirah Keep Hamasah :) )

Kamis, 12 Maret 2015

Kisah Kepompong

KISAH KEPOMPONG

       Seorang menemukan kepompong seekor kupu-kupu. Suatu hari lubang kecil muncul.
Dia duduk dan mengamati dalam beberapa jam kupu-kupu itu ketika dia berjuang dengan memaksa dirinya melewati lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

       Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya, dia ambil sebuah gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.
Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap2 mengkerut.Orang tersebut terus mengamatinya karena dia berharap bahwa, pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya, yg mungkin akan berkembang dalam waktu.
Semuanya tak pernah terjadi.

       Kenyataannya, kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak disekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap mengkerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yg menghambat dan perjuangan yg dibutuhkan kupu-kupu untukmelewati lubang kecil adalah jalan Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

       Kadang-kadang perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yg semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.

Saya memohon Kekuatan ..Dan Tuhan memberi saya kesulitan-kesulitan untuk membuat saya kuat.
Saya memohon Kebijakan ... Dan Tuhan memberi saya persoalan untuk diselesaikan.
Saya memohon Kemakmuran .... Dan Tuhan memberi saya Otak dan Tenaga untuk bekerja.
Saya memohon Keteguhan hati ... Dan Tuhan memberi saya Bahaya untuk diatasi.
Saya memohon kebahagiaan dan cinta kasih...Dan Tuhan memberikan kesedihan kesedihan untuk dilewati.
Saya memohon Cinta .... Dan Tuhan memberi saya orang-orang bermasalah untuk ditolong.
Saya memohon Kemurahan/kebaikan hati.... Dan Tuhan memberi saya kesempatan-kesempatan.
Saya tidak memperoleh yg saya inginkan, saya mendapatkan segala yang saya butuhkan.