Jumat, 17 Februari 2017

Siapa Aku Bagimu?


Perihal sesiapa aku bagimu hari ini,
Mungkin saja hanya sekedar pelarian
Sekedar mengisi separuh hatimu yang kosong
Sekedar mengobati lukamu yang belum kering
Bagimu mungkin tak mengapa
Tapi tidak bagiku,
Hadirmu yang sesaat membuat aku tak mampu menghitung jumlah cinta yang tercipta
Kamu mungkin paling tau,
Air wajahmu paling menentramkan untukku pandang
Paling tau, perkara apa yang paling aku khawatirkan
Kini kau telah pergi dan kembali mengemis pada hati yang lain
Tinggallah rinduku diambang ringkih
Lalu dengan bahasa apa aku merayakan kehilangan?
Haruskah pura pura bahagia disaat hati menangis?

Mendekap Dalam Taat


Jika saja sesuatu yang esa bukan hanya pada keberadaan Tuhan semata, melainkan penciptaan diri dan segala yang bernama ada.
Aku akan tetap singgah dirumahmu dan menetap dihatimu selamanya......
Aku yang hanya tak sekedar memenuhi sudut matamu, menatap lama pada sudut kaca jendela yang sejak lama dibasahi hujan.
Jika saja jarak adalah permadani yang dapat ku lipat menjadi dekat begitu erat tanpa sekat.
Akan ku bakar saja ia agar menyala dan jarak tiada.
Ku gantikan dengan tikar agar kita bisa duduk bersama di bawah langit dan pepohonan yang teduh.
Namun nyatanya tidak begitu, aku ada namun tiada, aku dekat namun jauh
Aku belum mampu penuhi pintamu
Dimatamu yang tampak layu, seluruh sendu berpadu menjadi satu, ada kabut dipelupuknya, ada senja yang kentara, dan selalu percaya menjadi mama.
Mungkin karena rindumu yang membantu pada suaraku.
Sungguh ma, jika engkau merasa terkucil dan sendiri, entah bagaimana harus ku ampuni diri ini
Jika engkau merasa alur waktu adalah derita, lalu sunyi teman bicara, kemudian air mata dalah luka yang menganga,
Maka, entah bagaimana harus aku artikan hidup ini.
Ma, jika suatu saat aku tiada, maka dunia masih ada.
Namun saat engkau yang berduka, aku lebih dari yang engkau duga.
Ma, cintaku bukan hanya kata sedetik ini saja
Meski tak sebanding dengan dunia yang engkau beri, namun sunyi untukmu bukanlah bait dari kelahiranku ke bumi.
Selamat malam mama 23:41

Merayakan Rindu yang hilang

Nanti malam, jika kau hadir kembali di mimpiku tolong pelankan langkah kakimu.
Jangan sampai mengusik tidurku, aku lelah, butuh rebah tanpa campur gundah dan resah karena rindumu yang hilang
Kelak kau akan menyadari, betapa air mata mencintai orang yang paling dicintainya, dengan cara :menjatuhkan diri
Dan kelak, kau pasti akan menyadari sesiapa yang mencintaimu dengan tulus.
Barangkali Media sosial diciptakan agar kesedihan kita mempunyai teman

Tentang sebuh Harga

Dan pada saatnya tiba
Duri yang tersamsam akan dimakamkan
Hati yang legam akan menjadi menawan
Luka yang merekah akan pulih
Karena yang menunggu akan dipertemukan, yang sabar akan dibahagiakan, yang menyakiti akan tersakiti, dan yang merentangkan akan mendapatkan genggaman.
Semesta tak pernah bertepuk sebelah tangan
Bahkan burung dapat terbang karena sayap ditopang oleh angin yang menjadikannya seimbang.

Salam Perjuangan Sayang

Kalau kita berbincang perihal kopi dan suara lantunan kehidupan, tentang perjalananmu yang di patahkan oleh seseorang, jatuh lalu bangkit kembali
Tentang halal dan haramnya sebuah kehidupan yang sering kita tertawai saat konferensi bangku kosong di padang ilalang
Lalu, pandangan seperti apa yang kita kita lemparkan pada sosok yang punya sisi kelam?
Apa pandangan syukur atau sebuah kebencian?
Seharusnya kau paham, kita tidak akan bisa mendefenisikan kondisi seseorang andai kita tidak memandang dari segala sisi. Hati yang membenci tidak akan mampu untuk mencinta.
Kau reguk kopimu lantas berkata ,"Mulut bukan hanya digunakan untuk menceritakan aib dan kejelekan masa lalu seseorang, bukan pula untuk mengkritik lalu menyalahkan perubahan diri seseorang. Lebih dari itu, mulut digunakan untuk mengatakan perihal yang baik, yang benar dengan dasar pengetahuan, karena bersamamu seseorang harus merasakan nyaman yang tiada duanya. Ya! Mengajak dalam taat."
Aku tertegun mendengar kalimat tersebut lantas terkagum.
Di zaman modern yang mendewakan kekuasaan masih saja ada ketulusan hawa yang memegang prinsip seperti itu.
Hanya satu hal saja ; Ajari aku mencintai Allah
Bertandang malu
Ampun,Tuhan