Sabtu, 18 Februari 2017

Ini adalah pagi kesekian
Tempat kita menambatkan rupa- rupa penantian

Lihatlah..!! Ia telah berubah menjadi stasiun
Disana, setiap yang datang menandakan rupa - rupa kepergian
Setiap pertemuan ancang - ancang perpisahan

Adakah cinta memberi ruh penghidupan bagi secercah harapan?
Antara aku dan stasiun, tersimpan nostalgia kegetiran

Aku Bukan Ustadzah

Mohon maaf, aku bukan ustadzah
Aku hanyalah calon boneka neraka yang akan membuat pesta para penghuninya
Bagiku syurga adalah ingin dan hidup di neraka adalah pasti

Di otakku, bumi adalah tempat orang bebas bercerita, berteman, kepada siapa saja dan apa saja yang kita pilih
Terkadang banyak yang mencintai secara blak - blakan, tetapi banyak yang membenci secara diam - diam

Jangan bermuka dua dan jangan pula berlidah ular, simpan sombong baik - baik, simpan cacian baik - baik, simpan kuat baik - baik.
Kita hanya perluberteriak kepada wajah sendiri, sebab musuh bukan mereka, tapi diri sendiri.

Setelah tugas kita selesai, pergi jauhlah! Hijrahlah! Uzlahlah!
Resapi berbagai dosa - dosa, terbang tinggi sampai ke langit, tak akan ada satupun yang sanggup menghentikan taat kita.
Kelak segala iri hati dan dengki akan berbisik, "Kau hebat, kau berbeda, tetaplah shalihah!"

Terimakasih atas pukulan kebencian.
Terimakasih atas segala tamparan cinta yang tulus ataupun basa - basi bahkan komedi

Dinadiku mengalir pekat darah kepastian, bukan permainan yang kebanyakan orang lain katakan.

Ketika Menggenggam Bara Api Sunnah


Semakin kuat ku genggam, semakin ia membakar diriku
Semakin ku kuatkan iman, semakin menjadi - jadi penolakan yang menghampiriku
Subhanallah

Kadang ku berfikir
Betapa bahagia ia yang di lahirkan dari keluarga sunnah, di keluarga dakwah
Kadang ku sesali anak dari keluarga sunnah/dakwah, tapi justru ingin jauh dari itu
MasyaAllah

Selangkah demi langkah ku jajaki jalan ini
Tak satupun jalan yang mulus ku lewati
Keluarga yang ku harap menyemangatiku dalam sunnah, justru mendorongku menjauh

Akhirnya aku paham
Bahwa Allah memberi ujian
Iman ini sedang di uji
Akankah karena penolakan dari mereka aku kalah?
Akankah bara api yang kini menyala terang harus ku lepas dan mati?

Jumat, 17 Februari 2017

Siapa Aku Bagimu?


Perihal sesiapa aku bagimu hari ini,
Mungkin saja hanya sekedar pelarian
Sekedar mengisi separuh hatimu yang kosong
Sekedar mengobati lukamu yang belum kering
Bagimu mungkin tak mengapa
Tapi tidak bagiku,
Hadirmu yang sesaat membuat aku tak mampu menghitung jumlah cinta yang tercipta
Kamu mungkin paling tau,
Air wajahmu paling menentramkan untukku pandang
Paling tau, perkara apa yang paling aku khawatirkan
Kini kau telah pergi dan kembali mengemis pada hati yang lain
Tinggallah rinduku diambang ringkih
Lalu dengan bahasa apa aku merayakan kehilangan?
Haruskah pura pura bahagia disaat hati menangis?

Mendekap Dalam Taat


Jika saja sesuatu yang esa bukan hanya pada keberadaan Tuhan semata, melainkan penciptaan diri dan segala yang bernama ada.
Aku akan tetap singgah dirumahmu dan menetap dihatimu selamanya......
Aku yang hanya tak sekedar memenuhi sudut matamu, menatap lama pada sudut kaca jendela yang sejak lama dibasahi hujan.
Jika saja jarak adalah permadani yang dapat ku lipat menjadi dekat begitu erat tanpa sekat.
Akan ku bakar saja ia agar menyala dan jarak tiada.
Ku gantikan dengan tikar agar kita bisa duduk bersama di bawah langit dan pepohonan yang teduh.
Namun nyatanya tidak begitu, aku ada namun tiada, aku dekat namun jauh
Aku belum mampu penuhi pintamu
Dimatamu yang tampak layu, seluruh sendu berpadu menjadi satu, ada kabut dipelupuknya, ada senja yang kentara, dan selalu percaya menjadi mama.
Mungkin karena rindumu yang membantu pada suaraku.
Sungguh ma, jika engkau merasa terkucil dan sendiri, entah bagaimana harus ku ampuni diri ini
Jika engkau merasa alur waktu adalah derita, lalu sunyi teman bicara, kemudian air mata dalah luka yang menganga,
Maka, entah bagaimana harus aku artikan hidup ini.
Ma, jika suatu saat aku tiada, maka dunia masih ada.
Namun saat engkau yang berduka, aku lebih dari yang engkau duga.
Ma, cintaku bukan hanya kata sedetik ini saja
Meski tak sebanding dengan dunia yang engkau beri, namun sunyi untukmu bukanlah bait dari kelahiranku ke bumi.
Selamat malam mama 23:41

Merayakan Rindu yang hilang

Nanti malam, jika kau hadir kembali di mimpiku tolong pelankan langkah kakimu.
Jangan sampai mengusik tidurku, aku lelah, butuh rebah tanpa campur gundah dan resah karena rindumu yang hilang
Kelak kau akan menyadari, betapa air mata mencintai orang yang paling dicintainya, dengan cara :menjatuhkan diri
Dan kelak, kau pasti akan menyadari sesiapa yang mencintaimu dengan tulus.
Barangkali Media sosial diciptakan agar kesedihan kita mempunyai teman

Tentang sebuh Harga

Dan pada saatnya tiba
Duri yang tersamsam akan dimakamkan
Hati yang legam akan menjadi menawan
Luka yang merekah akan pulih
Karena yang menunggu akan dipertemukan, yang sabar akan dibahagiakan, yang menyakiti akan tersakiti, dan yang merentangkan akan mendapatkan genggaman.
Semesta tak pernah bertepuk sebelah tangan
Bahkan burung dapat terbang karena sayap ditopang oleh angin yang menjadikannya seimbang.