Desiran cinta masih bergelimang di dasar hati
Aku terbiasa memeluk perih sendiri
Entah bagaimana tangis memperlakukan mata
Siang dan malam tetap saja terjaga
Ataukah bulir hujan di sore ini akan memberi jawaban pasti?
Ataukah hanya sebuah kesemuan yang tak berarti?
Aku hanya suka caramu menjatuhkan cinta
Kadang hanya sebagai pena, aksara, & udara..
Simpel bukan?
Kamis, 03 November 2016
Rinduku Kosong
Rinduku kosong
Nanar mataku mencoba meng eja
Nama kehidupan yang sedang ku jaga
Apakah aku harus mengulum senyum yang setiap detiknya ingin ku ukir dilangit?
Ataukah harus aku sipitkan mataku, agar mereka mengira aku bahagia?
Bahkan untuk bernafas saja aku butuh sesuap tenaga
Karena mengingatmu itu nafas, merindukanmu itu bahagia, mencintaimu itu nyawa, dan kamu memaksaku untuk hidup tanpa semua itu?
Nanar mataku mencoba meng eja
Nama kehidupan yang sedang ku jaga
Apakah aku harus mengulum senyum yang setiap detiknya ingin ku ukir dilangit?
Ataukah harus aku sipitkan mataku, agar mereka mengira aku bahagia?
Bahkan untuk bernafas saja aku butuh sesuap tenaga
Karena mengingatmu itu nafas, merindukanmu itu bahagia, mencintaimu itu nyawa, dan kamu memaksaku untuk hidup tanpa semua itu?
Malam seperti membeku
Malam seperti membeku
Ia adalah malam yang gelap gulita dan tiada berbintang
Hembusan anginnya mengantarkan kedinginan dan mendatangkan hujan
Ia adalah malam yang gelap gulita dan tiada berbintang
Hembusan anginnya mengantarkan kedinginan dan mendatangkan hujan
Seseorang akhirnya mengerti, bahwa yang tak terbawa oleh angin sedang bersiap - siap menjadi badai
Jauh disana, seorang musafir tengah berharap pada Tuhan-Nya
Ia tak meminta di mudahkan, tapi mohon dikuatkan
Ia selalu tampak tegar, namun acap kali kerapuhan tampak di raut wajahnya
Ia selalu tersenyum meskipun hatinya terluka
Ia adalah, tangan gagah yang tak tersentuh dan tak terlihat oleh mata
Sabar seperti apa yang mesti aku ucapkan agar kau bisa tersenyum
Setidaknya dengan tanpa paksaan
Berbahagialah
Aku mohon
Walaupun sebenarnya sulit
Sesungguh-Nya Tuhan bersama orang yang menari di jalan_Nya
Kuatlah..
Jauh disana, seorang musafir tengah berharap pada Tuhan-Nya
Ia tak meminta di mudahkan, tapi mohon dikuatkan
Ia selalu tampak tegar, namun acap kali kerapuhan tampak di raut wajahnya
Ia selalu tersenyum meskipun hatinya terluka
Ia adalah, tangan gagah yang tak tersentuh dan tak terlihat oleh mata
Sabar seperti apa yang mesti aku ucapkan agar kau bisa tersenyum
Setidaknya dengan tanpa paksaan
Berbahagialah
Aku mohon
Walaupun sebenarnya sulit
Sesungguh-Nya Tuhan bersama orang yang menari di jalan_Nya
Kuatlah..
Binar - binar Rahasia
Binar - binar Rahasia
Pada akhinya yang mencintai akan di khianati
Yang setia akan di patahkan
Pada akhinya yang mencintai akan di khianati
Yang setia akan di patahkan
Yang menunggu akan ditinggalkan
Mari kita berjalan saja tanpa janji, kelak jika langkah kita terhenti, kita tak perlu salinģ menyalahkan siapa yang dulu saling mengingkari
Mari sama - sama berhenti menerka - nerka yang membuat hati kian meragu , sampai suatu hari dimana keyakinan menemui hatimu.
Karena kelak, yang yakin akan dipertemui dengan keyakinannya.
Berbahagialah 11:08
Mari kita berjalan saja tanpa janji, kelak jika langkah kita terhenti, kita tak perlu salinģ menyalahkan siapa yang dulu saling mengingkari
Mari sama - sama berhenti menerka - nerka yang membuat hati kian meragu , sampai suatu hari dimana keyakinan menemui hatimu.
Karena kelak, yang yakin akan dipertemui dengan keyakinannya.
Berbahagialah 11:08
Pada suatu masa
Akan ku temui beberapa rindu yang mulai mengering, juga rasa yang meradang pada sebuah pertemuan dimasa depan
Entah aku yang akan menyapa, entah sapaanmu yang lebih dulu terasa
Sampai pada sebuah pengakhiran yang belum ada masanya
Pada sebuah takdir yang membuatku melupa akan sebuah rasa yang pernah ada di antara kita, barangkali semuanya akan berlalu begitu saja.
Rasa terimakasihku telah menganak danau.
Kalian adalah hujan, aku adalah teduh
Ditakdirkan bertemu, meskipun tak sama dalam perjalanan.
Dan lagi, rindu adalah penonton setia, dikala sepi memulai pertunjukannya...
Pada pagi yang semakin mendewasa11:03
Sesat ke Jalan yang Benar
SESAT
KE JALAN YANG BENAR
Semenjak
kenal dengan Kak Ida, Aku sering mendapatkan kata – kata mutiara, dan terkadang
menyebalkan serta seolah – olah menggurui. Namun tak ada yang dapat aku
lakukan, toh! Yang dikatakan Kak Ida adalah benar.
Nia,
kecil yang selalu merasa kebingungan itu akhirnya di tawari Kak Ida untuk mencarikan
solusi tempat tinggal.
“Assalamu’alaikum Fitri, afwan,
ukhti dimana? Ini ada adik yang mencari tempat tinggal, ana sekarang di
pustaka, , bla bla bla.” Panjang lebar Kak Ida berbicara dengan
telvon genggamnya. Aku hanya menunggu saja. Sebal sih! Apalagi ngomongnya pake
bahasa aneh ( bahasa afwan, ana dan sebagainya itu aku anggap bahasa
planet). Tak lama kemudian, orang yang di sebut Kak Ida di telvon tadi sudah
muncul, eh datang maksudnya.
“Assalamu’alaikum, siapa namanya dek.”
Kakak berjilbab besar itu mengulurkan tangannya kepadaku ( gaya bersalamannya juga aneh, peke di putar – putar segala ),
kemudian merangkulku dengan lembut ( wah
, wah, baru kenal kok udah berani cipika cipiki ya,, sereeemm dah!). aku
memperkenalkan namaku serta kampung halamanku. Ya udah! Itu aja dulu.. ha ha.
Kak
Fitri mengajakku ke sebuah rumah, kalau ngak salah namanya sih wisma. Tapi
bentuknya sama seperti rumah, namanya kok ribet amat ya.
“Ini dek,tempatnya, silahkan
dilihat – lihat dulu.” Sambil berjalan Kak Fitri mulai menjelaskan seluruh bagian rumahnya, mulai dari
kamar tidur, kamar mandi, tempat sholat, ruang makan, tempat menjemur pakayan,
dapur dan tempat sepatu. Semua kelebihan di wisma semuanya di jelaskan ( lalu kekurangannya kapan?).
“Bagaimana Nia? Apakah suka dengan
kondisinya?” dengan spontan saya lansung menjawab, “ Suka kak.”
“Nah! Tinggal disini ada
peraturannya dek, mungkin Nia bisa melihatnya disini , sambil menyodorkan
sebuah kertas. Silahkan di baca dulu!” aku mulai membaca
semua peraturan yang tertulis rapi di kertas itu, tapi kok ribet amat ya hidup
disini, semuanya serba ada aturan, sampai – sampai makanpun ada aturannya, aku
membacanya sambil ngomel ngomel melihat peraturan yang serba ketat itu. Saking shocknya keningku mulai keriput untuk
memahaminya. “ kenapa Nia? Ada yang bisa
kakak bantu?” secara spontan kak Fitri mulai menjelaskan semua aturannya,
mulai dari cara bergaul, cara berpakayan ( wajib pakai kaus, rok, baju panjang,
manset dan jilbab lapis ), cara makan, piket masak, piket kebersihan dan
sebagainya, jika terdapat pelanggaran maka akan dikenakan Surat Peringatan.
Bagi pelanggaran terberat ( Pacaran ) akan dikeluarkan dari wisma.
Alamakk..!!
panjang dan cukup banyak aturan. Sebenarnya berat juga untuk menjalankannya.
Karena tidak ada pilihan lain, secara terpaksa aku lansung katakan, “ Ya Kak, Insya Allah Nia sudah OK untuk
tinggal di wisma.”
***
Semenjak
hari itu, aku telah putuskan untuk tinggal di wisma. Walaupun dalam keadaan
terpaksa. Satu persatu semua aturan itu aku jalankan walaupun masih ada yang
terlanggar. Di awal masuk wisma, suatu hal yang membuat aku paling jijik adalah
“Tradisi makan pakai talam”,aku benar
– benar muak dengan aturan itu, ketika makan ada – ada saja yang membuat perut
terasa mual, apalagi melihat tangan – tangan yang bergerak mengambil nasi serta
dengan bebasnya memegang sambal. Isshh…!
Terasa sangat jorok, apalagi ditambah dengan kuah sayur yang tergenang.
Ah!
Sudahlah! Terlalu panjang untuk di tuliskan lembaran kisah yang tak menarik
itu. Yang paling penting semua suka dan duka itu seolah – olah terasa indah.
Disini ( wisma ) semua serba berjama’ah,
saling menasehati, dan Insya Allah berlomba – lomba dalam kebaikan.
Sesuatu
hal yang tak dapat aku sembunyikan, selama tinggal di wisma adalah nikmatnya ukhuwah. Semua aturan yang dulu amat
rumit, sekarang ku jalani biasa saja. Tak ada yang memberatkan, dan yang tak kalah
penting dan harus di ingat adalah Aku telah sesat, “ Tersesat ke jalan yang benar.”
“Dan aku benar – benar sadar, Allah
punya rencana yang indah untuk hamba-Nya. Boleh jadi hamba-Nya akan di uji
dengan berbagai ujian untuk mendapatkan sesuatu yang manis. Tetaplah berjuang,
boleh jadi apa yang tidak engkau sukai itu adalah jalan yang terbaik yang Allah
berikan dan Hidayah Allah itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi kamulah
yang menjemputnya. Iya! Kamu! Gadis kampung!”
Sosok yang Luar Biasa
SOSOK YANG LUAR
BIASA
Ibuku adalah
sosok yang luar biasa. Mampukah aku sepertinya? Aku masih ingat, di pagi hari
yang cerah itu Ibu sudah mulai menghidangkan makanan untuk kami makan. Aku dan
kedua adikku ingin sesegera mungkin untuk mulai menyantap sarapan pagi itu.
Adikku Aziz dan Febria makan dengan lahap. Ketika
kami sedang makan, Ibu hanya melihat saja. Akupun mulai menyadarinya, ternyata
sambal hanya sedikit, hanya untuk kami saja. Aku menatapnya sembari berkata, "Ibu tidak makan?"
“Ibu sudah makan, kalian lanjutkan saja dulu"
***
Hari
itu adalah hari Minggu, Aku hendak meminta uang untuk keperluan kuliah kepada
Ibu, "Ibu, Nia besok akan ke Padang,
tetapi tidak ada uang".
"Ibu sudah ada uang nak, besok sebelum berangkat ke Padang akan
Ibu berikan."
Akupun menyadarinya. Ibu benar benar tidak ada uang, dan
akhirnya meminjam kepada tetangga. Hanya saja Ibu tidak mengatakannya. Aku
tau, setiap hari Ibu pasti kelelahan. Namun masih saja terlihat tegar dan kuat
di hadapan kami. Aku tau, Ibu adalah pembohong! sengaja berbohong agar kami
tidak merasa sedih. Aku tau, Ibuku tak punya pendidikan yang tinggi. Namun
beliau adalah orang sukses. Sukses kenapa? Ibuku telah sukses menjaga amanah
titipan Allah yaitu Aku dan kedua adikku Febria dan Aziz.
Mampukah aku
sepertinya? Bahkan ketika Aku di hadapkan dengan berbagai ujian, Aku sering
merasa mengeluh, seolah – olah tak ada harapan. Ketika Aku di uji, aku sering
kali meneteskan air mata karena Aku benar benar tak mampu lagi untuk
membendungnya. Jauh berbeda dengan sikap Ibu.
Aku merindukannya.
Aku benar benar merindukannya.
Aku ingin melihat senyumannya.
Aku ingin melihat semangatnya.
Namun aku tak bisa berbuat, selain
ku titip do'a kepada-Nya.
kepada Dia Sang pemilik jiwa-jiwa.
RASA YANG TERSEMBUNYI
RASA YANG
TERSEMBUNYI
Sering
bertemu mungkin hal yang wajar
Sering
berkomunikasi juga termasuk hal yang wajar
Apakah
selalu wajar?
Ternyata
tidak!
Semua
aktifitasnya selalu di post ke media sosial.
Semua
kerjanya orang – orang menjadi tau.
Semua
kebaikan dan ketulusannya duniapun tau.
Keuletan,
keramahan, kesantunannya benar – benar mempesona
Kerjanya
benar – benar nyata.
Awalnya
mungkin hanya rasa simpati.
Tapi,
semakin hari rasanya semakin aneh.
Ah!
Sudahlah!
Ini
adalah rasa yang tersembunyi.
Buanglah
jauh – jauh!
Kau
masih belum layak untuk punya rasa yang terlalu jauh!
Kalau
perlu rasa itu karungkan!
Ikat
kuat – kuat dan buanglah ke tong sampah.
Ayyash dan Putri Kecil
AYYASH DAN PUTRI KECIL
Namanya Ayyash, dia adalah anak
laki – laki yang paling manja di keluarga kerajaan hutan. Setiap harinya Ayyash
hanya bermain saja. Ayah dan Ibunya
membiarkan anak semata wayangnya
itu bebas berinteraksi dengan siapapun.
Kerajaan hutan memiliki taman
yang sangat luas, ditumbuhi dengan berbagai macam jenis tanaman belukar dan
beribu macam bunga yang indah.
Setiap hari Ayyash selalu membawa
setangkai bunga kohana kecil yang unik
ke kamarnya, namun kejadian aneh itu terulang lagi. Bunga kecil yang tak pernah
layu itu menghilang . “Ayah…! Ibu…! Kan Ayyash sudah bilang, jangan pernah ambil
bunga kecil di kamar Ayyash!” serunya. Ayyash berteriak – teriak di kamarnya.
Karena bunga kecil itu sering hilang, sedangkan di taman sudah mulai langka.
Suatu pagi Ayyash bangun dari
tidurnya. Matahari sepertinya malu – malu untuk mengeluarkan cahayanya yang
indah. Karena malas, Ayyash masih terbaring di atas ranjang empuknya itu.
Matanya fokus ke balik tirai jendela yang terbuka. Disamping jendela itu ada
lobang kecil yang belum pernah di perbaiki ayahnya semenjak Ayyash tidur dikamar itu. Ia melihat
cahaya kecil keluar dari lobang itu.
Ayyash menarik selimutnya karena
ketakutan. Dari celah – celah selimut itu, Ayyash masih memberanikan diri untuk
mengintip cahaya putih yang keluar dari lubang kecil. Ayyash melihat dengan mata
kepalanya sendiri, seorang gadis kecil berjalan menepi ke arah jendela dan
mengambil bunga kohana dengan cepat. Belum sempat berbicara, gadis kecil itu
menghilang sekejap mata.
Dengan bergegas, gadis kecil itu
membawa bunga kohana keluar dari jendela dan berseluncur di atas dahan – dahan
semak belukar. Ayyash berlari ke jendela, namun ia tak menemukan gadis kecil
itu lagi. “Wah…! Aku mimpi kali ya! Mana ada gadis kecil seperti kurcaci itu di
zaman sekarang.” Ujarnya sambil menggaruk – garuk kepala.
Gadis kecil itu berlari dengan
cepat membawa satangkai bunga kohana. Dua ekor jangkrik melompat – lompat
hendak merebut bunga kohana dari genggaman gadis kecil . Tap! Tap! Tap! Suara
sepatu gadis itu dengan keras menghantam bebatuan kecil, sehingga membuat
jakrik menghindar.
“Mama! Mama! Raissa mendapatkan
Bunga kohana lagi,” ujarnya.
Ibu Raisa keluar dan mengambil
bunga kohana dari tangan gadis kecil itu. “ Alhamdulillah, kamu luar biasa nak,
syukurlah kita bisa makan hari ini.” Ibu Raissa bergegas lari kedapur dan
memasak bunga kohana itu untuk keluarga mereka.
“Bu! Tadi saat Raissa mengambil
bunga kohana di kamar manusia itu, sepertinya mereka tahu Bu,” ujarnya.
“Apa..!! manusia itu tau kalau
kamu mengambil bunga kohana dari kamarnya? Gawat! Gawat! Ini sudah darurat. Kan
Ibu sudah bilang, kamu boleh keluar tapi jangan pernah memperlihatkan diri
kepada manusia.
“Papa! Papa! Bagaimana ini! sepertinya
kita harus pergi dari rumah ini!” Ibunya Raissa terlihat cemas dan
menghempaskan dirinya duduk di atas kursi kecil.
“Tenang Bu, sepertinya kita harus
mencari jalan keluarnya. Satu – satunya adalah kita harus pergi dari tempat
ini. Malam ini Papa akan berpetualang
untuk mengambil beberapa makanan di dapur manusia itu.”
“Papa mau pergi berpetualang?
Raissa ikut pa,”Tanya gadis kecil itu.
“Baiklah, Papa akan membawa kamu
berpetualang. Kamu harus mengambil gula di dapur manusia, papa akan membantumu.
Dengan sigap Raissa dan papanya
mulai melompat –lompat di atas dedaunan kecil dan memanjat semak – semak
belukar yang menjulang indah itu menuju ke arah dapur manusia. Sesampainya di
dapur, dengan menggunakan pengait kecil, Raissa memanjat ke atas toples
simpanan gula dan berhasil memasukkan gula putih ke dalam tasnya.
Kreet..! suara pintu terdengar
seperti ada yang membuka. Raissa melihat Ayyash, anak raja kerajaan hutan itu
masuk ke dapur. Raissa dan Ayahnya dengan cepat berlari ke arah jendela.
Potongan gula kecil yang di kantongi Raissa terjatuh dan terhempas ke lantai.
Ayyash memungut gula kecil itu, dan Ia melihat Raissa keluar dari jendela.
“Ayah! Apakah disini pernah hidup
makhluk kecil?”
“Ya! Kira – kira 100 tahun lalu
disini banyak manusia kecil. Bentuknya sama seperti kita, namun ukurannya sangatlah
kecil. Dulu Ayah dan Ibu pernah membuat
rumah kecil untuk tempat tinggal mereka. Akan tetapi mereka sudah tak terlihat
lagi. Apakah kau menemukannya anakku?”
“Sepertinya Aku melihatnya Ayah!”
“Jangan sakiti mereka ya!
Sepertinya populasi manusia kecil itu sudah berkurang. Bersahabatlah dengan
mereka. Ayah yakin merekalah yang mengambil bunga kohana di kamar Ayyash,
karena bunga di taman itu sengaja Ayah tanam untuk mereka.”
Kemuadian Raja kerajaan itu pergi
begitu saja meninggalkan Ayyash yang masih kebingungan. Ayyash masuk ke
kamarnya dan melihat ke arah lobang kecil itu. Ayyash menaruh sepotong gula
yang tak berhasil di bawa Raissa di depan lobang kecil itu.
“Bu! Sepertinya manusia itu baik
bu! Gula yang Raissa jatuhkan tadi malam di tarok manusia itu di depan lobang
kecil di kamarnya. Ini bu gulanya.” Raissa memberikan sepotong gula itu ke
tangan Ibunya.
“Tidak! Tidak! Ini bahaya besar!
besok pagi kita harus pergi dari rumah ini. Kita tidak boleh bertemu manusia.”
Mendengar perkataan Ibunya, Raissa
berlari keluar rumahnya dan menuju ke taman. Seekor kucing mendekati Raissa dan
berusaha untuk mecengkramnya. Raissa berlari ketakutan sehingga ia melompat ke
atas dedaunan dan memanjat semak belukar.
Ayyash sedang duduk di depan
jendela kamarnya sambil melihat ke arah langit yang di penuhi bintang. Raissa
berteriak minta tolong dari luar jendela.
Ayyash tertegun melihat gadis
kecil itu dan lansung membukakan jendela kamarnya. Raissa berlari dan
bersembunyi di balik baju Ayyash tanpa rasa takut. Seekor kucing peliharaan
Ayyash muncul di depan jendela. Ayyash mengambil kucing itu dan mengelusnya.
Akan tetapi mata kucingnya masih saja mencari sesosok makhluk incarannya itu.
Ayyash mengeluarkan kucingnya
dengan paksa dari kamar karena melihat gadis kecil itu bersembunyi di balik
bajunya.
“Hellow..! kucingnya sudah
pergi,” ujarnya. Raissa keluar dari balik baju Ayyash dan hendak berlari keluar
jendela. Akan tetapi Ayyash dengan sigap menutup pintu jendela. Raissa
menggigil ketakutan.
“Aku tidak akan menyakitimu,
siapa namamu?” Ayyash mengulurkan tangannya ke arah Raissa. “ Ayo..! naiklah ke
tanganku, aku tidak akan menyakitimu.”
Dengan perlahan Raissa naik ke
tangan Ayyash. Ia masih terliat murung, Ayyash tersenyum kepadanya. “Siapa
namamu putri kecil?”
Raissa berusaha mengangkat
kepalanya. “Namaku Ra.. ra.. Raissa,” ujarnya dengan gagap.
“Namaku Ayyash, salam kenal putri
kecil. Aku tidak akan menyakitimu. Pulanglah! barangkali keluargamu sedang
mencarimu.” Dengan bergegas Raissa berlari keluar jendela dan menuju ke
kamarnya.
Kerajaan hutan sedang mengalami
musim hujan, Raissa dan keluarganya tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk
pindah dan pergi dari rumah kerajaan itu, karena akan banyak katak, ular, dan
sejenis hewan lainnya yang berkeliaran di musim hujan yang akan mengancam nyawa
keluarga kecil mereka. Semenjak saat itu juga Raissa berusaha meyakinkan kedua
orang tuanya, bahwa manusia itu baik.
“Tidak Raissa! Tidak! Ibu dan
Ayah tidak akan membiarkanmu bergaul dengan manusia. Setelah musim hujan kita
akan pergi dari tempat ini. Dulu populasi kita banyak nak, tapi sekarang hanya
tinggal kau, ayah dan Ibu. Manusia – manusia itu telah meracun populasi kita dengan racun kecoa, dan bahkan
banyak saudaramu menjadi korban mesin penyedot serangga.”
Raissa seolah – olah merasa gagal
untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Namun ia sering berkunjung ke kamar Ayyash
untuk mendapatkan berbagai jenis makanan. Raissa membawa makanan itu kepada
Ibunya, sambil berharap keluarganya akan berdamai dengan manusia.
“Mulai dari detik ini, kamu tidak
boleh keluar Raissa! Kamu jangan mudah percaya dengan manusia, mereka punya
seribu macam tipu muslihat untuk menjebak kita. Ibu akan menjagamu di kamar.
Untuk kedepannya Ayah akan mencarikan kita makanan.”
Seminggu berlalu, musim penghujan
tak kunjung berhenti. Persediaan makanan meraka sudah mulai habis. Sedangkan
Ayah Raissa tak dapat keluar, karena satu – satunya celah tempat mereka keluar
di huni oleh beberapa katak.
Ayyash tak lagi melihat Raissa,
ia bergegas berlari ke gudang dan mengambil payung. Ayyash berjalan menuju ke
taman di samping kerajaan. “Raissa! Raissa! Kamu dimana?” ujarnya sambil
berteriak – teriak di antara lobang yang ada disamping kerajaan. Ia berharap
Raissa mendengar teriakannya.
“Apakah Raissa dan keluarganya telah
punah? Ah! Itu tidak mungkin.” Ayyash masih terus mondar – mandir di taman
samping kerajaan.
“Bu! Pe’rsediaan makanan kita
sudah habis. Apakah Ibu tak sayang pada Raissa. Izinkan Raissa untuk bertemu
manusia itu Bu. Mereka baik pada Raissa, dan kita bisa hidup dengan tenang dan
mendapatkan banyak makanan Bu.”
Ibu Raissa tak dapat berkata apa
– apa lagi, Akhirnya Raissa mendapatkan izin untuk keluar dari rumahnya. Dengan
sangat hati – hati Raissa berjalan di antara katak yang tertidur dengan pulas.
Ia berlari menuju ke kaki Ayyash dan berusaha memanjat ke kerah bajunya.
“Hei! Kamu mencariku?” tanyanya.
“Astagfirullah!” Ayyash
terperanjak kaget melihat Raissa putri kecil itu sudah berada di pundaknya.
“Kamu kemana saja? Apakah kamu
dan keluargamu mendapat makanan?”
Raissa tidak menjawab pertanyaan
Ayyash. “Baiklah, aku akan memberikanmu
makanan dan mengantarkanmu ke pintu rumahmu.”
Setelah mendapatkan makanan,
Raissa di antar ke lobang kecil tempat tinggal mereka. Selama musim hujan
Raissa dan keluarganya makan dari hasil pemberian Ayyash.
“Bu! Sudah hampir satu bulan
musim hujan datang, dan semenjak itu juga kita makan dari hasil pemberian
manusia. ‘Besok pagi kita akan memenjat ke semak – semak belukar di samping
kamar Ayyash,’ kata ayahnya. ‘Kita harus menemui mereka walaupun masih dalam
keadaan hujan deras. Ayah akan berusaha untuk mengusir jangkrik dan katak yang
menghalangi kita untuk keluar dari rumah ini.”
Keesokan harinya Raissa dan
keluarganya berusaha untuk keluar rumah, mereka berlari dengan cepat dan
bergantungan di antara semak semak belukar menuju ke kamar Ayyash. Sesampainya
di jendela kamar, Ayyash menyambut mereka dengan hangat dan memberikan beberapa
potong makanan.
Ayyash mengulurkan tangannya,
Raissa dan keluarganya naik dan duduk di atas tangan Ayyash.
“Ayah! Ibu! Ayyash mau bicara,”
ujarnya. Orang tua Ayyash bergegas masuk ke kamar Ayyash.
“Ada apa nak? Apakah kamu
membutuhkan sesuatu?”
Ayyash tak menjawab pertanyaaan
kedua orang tuanya. Secara spontan Ayyash mengacungkan tangannya kepada Ayah
dan Ibunya untuk memperlihatkan apa yang ada di tanggannnya. Ayyash
memperkenalkan Putri kecil Raissa dan keluarga kecil mereka kepada Ayahnya.
Semenjak hari itu Raissa dan
keluarganya tinggal di dalam istana kecil di dalam kerajaan. Istana kecil itu
dilengkapi dengan berbagai pernak – pernik isi rumah layaknya tempat tinggal
manusia.
“Raissa! Raissa! Ayah membuatkan
ramuan khusus pengecil badan. Kita bisa mengajak Ayyash dan keluarganya untuk berpetualang.
Sekarang kamu tawarkan ramuan ini kepada mereka ya,” ujar Papa Raissa.
Raissa mengambil ramuan itu dan
memberikan kepada keluarga Ayyash. Sejak hari itu, kerajaan hutan sering
berpetualang dan melakukan perjalan luar biasa bersama putri kecil. Mereka
bermain dengan girang, molompat di antara dedaunan semak belukar, memakan bunga
kohana, serta memerangi katak, jangkrik, ular, dan binatang lainnya bersama
keluarga kerajaan.
“Sungguh! Ini adalah perjalanan
yang luar biasa yang pernah Ayyash rasakan Ayah! Apalagi bertemu dengan putri
kecil dan keluarganya.” Kedua orang tua Ayyash hanya tersenyum saja menyaksikan
kegembiraan yang dirasakan oleh putra semata wayangnya itu.
TAMAT
Langganan:
Postingan (Atom)