Kamis, 03 November 2016

Desiran Cinta

Desiran cinta masih bergelimang di dasar hati
Aku terbiasa memeluk perih sendiri
Entah bagaimana tangis memperlakukan mata
Siang dan malam tetap saja terjaga
Ataukah bulir hujan di sore ini akan memberi jawaban pasti?
Ataukah hanya sebuah kesemuan yang tak berarti?
Aku hanya suka caramu menjatuhkan cinta
Kadang hanya sebagai pena, aksara, & udara..
Simpel bukan?

Rinduku Kosong

Rinduku kosong

Nanar mataku mencoba meng eja
Nama kehidupan yang sedang ku jaga
Apakah aku harus mengulum senyum yang setiap detiknya ingin ku ukir dilangit?

Ataukah harus aku sipitkan mataku, agar mereka mengira aku bahagia?
Bahkan untuk bernafas saja aku butuh sesuap tenaga
Karena mengingatmu itu nafas, merindukanmu itu bahagia, mencintaimu itu nyawa, dan kamu memaksaku untuk hidup tanpa semua itu?

Malam seperti membeku

Malam seperti membeku

Ia adalah malam yang gelap gulita dan tiada berbintang
Hembusan anginnya mengantarkan kedinginan dan mendatangkan hujan
Seseorang akhirnya mengerti, bahwa yang tak terbawa oleh angin sedang bersiap - siap menjadi badai
Jauh disana, seorang musafir tengah berharap pada Tuhan-Nya
Ia tak meminta di mudahkan, tapi mohon dikuatkan
Ia selalu tampak tegar, namun acap kali kerapuhan tampak di raut wajahnya
Ia selalu tersenyum meskipun hatinya terluka
Ia adalah, tangan gagah yang tak tersentuh dan tak terlihat oleh mata
Sabar seperti apa yang mesti aku ucapkan agar kau bisa tersenyum
Setidaknya dengan tanpa paksaan
Berbahagialah
Aku mohon
Walaupun sebenarnya sulit
Sesungguh-Nya Tuhan bersama orang yang menari di jalan_Nya

Kuatlah..

Binar - binar Rahasia

Binar - binar Rahasia

Pada akhinya yang mencintai akan di khianati
Yang setia akan di patahkan
Yang menunggu akan ditinggalkan
Mari kita berjalan saja tanpa janji, kelak jika langkah kita terhenti, kita tak perlu salinģ menyalahkan siapa yang dulu saling mengingkari
Mari sama - sama berhenti menerka - nerka yang membuat hati kian meragu , sampai suatu hari dimana keyakinan menemui hatimu.
Karena kelak, yang yakin akan dipertemui dengan keyakinannya.
Berbahagialah 11:08
Pada suatu masa

Akan ku temui beberapa rindu yang mulai mengering, juga rasa yang meradang pada sebuah pertemuan dimasa depan

Entah aku yang akan menyapa, entah sapaanmu yang lebih dulu terasa

Sampai pada sebuah pengakhiran yang belum ada masanya

Pada sebuah takdir yang membuatku melupa akan sebuah rasa yang pernah ada di antara kita, barangkali semuanya akan berlalu begitu saja.
Rasa terimakasihku telah menganak danau.

Kalian adalah hujan, aku adalah teduh

Ditakdirkan bertemu, meskipun tak sama dalam perjalanan.

Dan lagi, rindu adalah penonton setia, dikala sepi memulai pertunjukannya...

Pada pagi yang semakin mendewasa11:03

Sesat ke Jalan yang Benar


SESAT KE JALAN YANG BENAR
Semenjak kenal dengan Kak Ida, Aku sering mendapatkan kata – kata mutiara, dan terkadang menyebalkan serta seolah – olah menggurui. Namun tak ada yang dapat aku lakukan, toh! Yang dikatakan Kak Ida adalah benar.
Nia, kecil yang selalu merasa kebingungan itu akhirnya di tawari Kak Ida untuk mencarikan solusi tempat tinggal.
“Assalamu’alaikum Fitri, afwan, ukhti dimana? Ini ada adik yang mencari tempat tinggal, ana sekarang di pustaka, , bla bla bla.” Panjang lebar Kak Ida berbicara dengan telvon genggamnya. Aku hanya menunggu saja. Sebal sih! Apalagi ngomongnya pake bahasa aneh ( bahasa afwan, ana dan sebagainya itu aku anggap bahasa planet). Tak lama kemudian, orang yang di sebut Kak Ida di telvon tadi sudah muncul, eh datang maksudnya.
Assalamu’alaikum, siapa namanya dek.” Kakak berjilbab besar itu mengulurkan tangannya kepadaku ( gaya bersalamannya juga aneh, peke di putar – putar segala ), kemudian merangkulku dengan lembut ( wah , wah, baru kenal kok udah berani cipika cipiki ya,, sereeemm dah!). aku memperkenalkan namaku serta kampung halamanku. Ya udah! Itu aja dulu.. ha ha.
Kak Fitri mengajakku ke sebuah rumah, kalau ngak salah namanya sih wisma. Tapi bentuknya sama seperti rumah, namanya kok ribet amat ya.
“Ini dek,tempatnya, silahkan dilihat – lihat dulu.” Sambil berjalan Kak Fitri mulai menjelaskan seluruh bagian rumahnya, mulai dari kamar tidur, kamar mandi, tempat sholat, ruang makan, tempat menjemur pakayan, dapur dan tempat sepatu. Semua kelebihan di wisma semuanya di jelaskan ( lalu kekurangannya kapan?).
“Bagaimana Nia? Apakah suka dengan kondisinya?” dengan spontan saya lansung menjawab, “ Suka kak.”
“Nah! Tinggal disini ada peraturannya dek, mungkin Nia bisa melihatnya disini , sambil menyodorkan sebuah kertas. Silahkan di baca dulu!” aku mulai membaca semua peraturan yang tertulis rapi di kertas itu, tapi kok ribet amat ya hidup disini, semuanya serba ada aturan, sampai – sampai makanpun ada aturannya, aku membacanya sambil ngomel ngomel melihat peraturan yang serba ketat itu. Saking shocknya keningku mulai keriput untuk memahaminya. “ kenapa Nia? Ada yang bisa kakak bantu?” secara spontan kak Fitri mulai menjelaskan semua aturannya, mulai dari cara bergaul, cara berpakayan ( wajib pakai kaus, rok, baju panjang, manset dan jilbab lapis ), cara makan, piket masak, piket kebersihan dan sebagainya, jika terdapat pelanggaran maka akan dikenakan Surat Peringatan. Bagi pelanggaran terberat ( Pacaran ) akan dikeluarkan dari wisma.
Alamakk..!! panjang dan cukup banyak aturan. Sebenarnya berat juga untuk menjalankannya. Karena tidak ada pilihan lain, secara terpaksa aku lansung katakan, “ Ya Kak, Insya Allah Nia sudah OK untuk tinggal di wisma.”
***
Semenjak hari itu, aku telah putuskan untuk tinggal di wisma. Walaupun dalam keadaan terpaksa. Satu persatu semua aturan itu aku jalankan walaupun masih ada yang terlanggar. Di awal masuk wisma, suatu hal yang membuat aku paling jijik adalah “Tradisi makan pakai talam”,aku benar – benar muak dengan aturan itu, ketika makan ada – ada saja yang membuat perut terasa mual, apalagi melihat tangan – tangan yang bergerak mengambil nasi serta dengan bebasnya memegang sambal. Isshh…! Terasa sangat jorok, apalagi ditambah dengan kuah sayur yang tergenang.
Ah! Sudahlah! Terlalu panjang untuk di tuliskan lembaran kisah yang tak menarik itu. Yang paling penting semua suka dan duka itu seolah – olah terasa indah. Disini ( wisma ) semua serba berjama’ah, saling menasehati, dan Insya Allah berlomba – lomba dalam kebaikan.
Sesuatu hal yang tak dapat aku sembunyikan, selama tinggal di wisma adalah nikmatnya ukhuwah. Semua aturan yang dulu amat rumit, sekarang ku jalani biasa saja. Tak ada yang memberatkan, dan yang tak kalah penting dan harus di ingat adalah Aku telah sesat, “ Tersesat ke jalan yang benar.”
“Dan aku benar – benar sadar, Allah punya rencana yang indah untuk hamba-Nya. Boleh jadi hamba-Nya akan di uji dengan berbagai ujian untuk mendapatkan sesuatu yang manis. Tetaplah berjuang, boleh jadi apa yang tidak engkau sukai itu adalah jalan yang terbaik yang Allah berikan dan Hidayah Allah itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi kamulah yang menjemputnya. Iya! Kamu! Gadis kampung!”


Sosok yang Luar Biasa


SOSOK YANG LUAR BIASA
Ibuku adalah sosok yang luar biasa. Mampukah aku sepertinya? Aku masih ingat, di pagi hari yang cerah itu Ibu sudah mulai menghidangkan makanan untuk kami makan. Aku dan kedua adikku ingin sesegera mungkin untuk mulai menyantap sarapan pagi itu. Adikku Aziz dan Febria makan dengan lahap. Ketika kami sedang makan, Ibu hanya melihat saja. Akupun mulai menyadarinya, ternyata sambal hanya sedikit, hanya untuk kami saja. Aku menatapnya sembari berkata, "Ibu tidak makan?"
“Ibu sudah makan, kalian lanjutkan saja dulu"
***
Hari itu adalah hari Minggu, Aku hendak meminta uang untuk keperluan kuliah kepada Ibu, "Ibu, Nia besok akan ke Padang, tetapi tidak ada uang".
"Ibu sudah ada uang nak, besok sebelum berangkat ke Padang akan Ibu berikan."
Akupun menyadarinya. Ibu benar benar tidak ada uang, dan akhirnya meminjam kepada tetangga. Hanya saja Ibu tidak mengatakannya. Aku tau, setiap hari Ibu pasti kelelahan. Namun masih saja terlihat tegar dan kuat di hadapan kami. Aku tau, Ibu adalah pembohong! sengaja berbohong agar kami tidak merasa sedih. Aku tau, Ibuku tak punya pendidikan yang tinggi. Namun beliau adalah orang sukses. Sukses kenapa? Ibuku telah sukses menjaga amanah titipan Allah yaitu Aku dan kedua adikku Febria dan Aziz.
Mampukah aku sepertinya? Bahkan ketika Aku di hadapkan dengan berbagai ujian, Aku sering merasa mengeluh, seolah – olah tak ada harapan. Ketika Aku di uji, aku sering kali meneteskan air mata karena Aku benar benar tak mampu lagi untuk membendungnya. Jauh berbeda dengan sikap Ibu.
Aku merindukannya.
Aku benar benar merindukannya.
Aku ingin melihat senyumannya.
Aku ingin melihat semangatnya.
Namun aku tak bisa berbuat, selain ku titip do'a kepada-Nya.
kepada Dia Sang pemilik jiwa-jiwa.

RASA YANG TERSEMBUNYI


RASA YANG TERSEMBUNYI
Sering bertemu mungkin hal yang wajar
Sering berkomunikasi juga termasuk hal yang wajar
Apakah selalu wajar?
Ternyata tidak!
Semua aktifitasnya selalu di post ke media sosial.
Semua kerjanya orang – orang menjadi tau.
Semua kebaikan dan ketulusannya duniapun tau.
Keuletan, keramahan, kesantunannya benar – benar mempesona
Kerjanya benar – benar nyata.
Awalnya mungkin hanya rasa simpati.
Tapi, semakin hari rasanya semakin aneh.
Ah! Sudahlah!
Ini adalah rasa  yang tersembunyi.
Buanglah jauh – jauh!
Kau masih belum layak untuk punya rasa yang terlalu jauh!
Kalau perlu rasa itu karungkan!
Ikat kuat – kuat dan buanglah ke tong sampah.


Ayyash dan Putri Kecil


AYYASH DAN PUTRI KECIL

Namanya Ayyash, dia adalah anak laki – laki yang paling manja di keluarga kerajaan hutan. Setiap harinya Ayyash hanya bermain saja. Ayah dan Ibunya  membiarkan anak semata wayangnya  itu bebas berinteraksi dengan siapapun.
Kerajaan hutan memiliki taman yang sangat luas, ditumbuhi dengan berbagai macam jenis tanaman belukar dan beribu macam bunga yang indah.
Setiap hari Ayyash selalu membawa setangkai bunga kohana kecil  yang unik ke kamarnya, namun kejadian aneh itu terulang lagi. Bunga kecil yang tak pernah layu itu menghilang . “Ayah…! Ibu…! Kan Ayyash sudah bilang, jangan pernah ambil bunga kecil di kamar Ayyash!” serunya. Ayyash berteriak – teriak di kamarnya. Karena bunga kecil itu sering hilang, sedangkan di taman sudah mulai langka.
Suatu pagi Ayyash bangun dari tidurnya. Matahari sepertinya malu – malu untuk mengeluarkan cahayanya yang indah. Karena malas, Ayyash masih terbaring di atas ranjang empuknya itu. Matanya fokus ke balik tirai jendela yang terbuka. Disamping jendela itu ada lobang kecil yang belum pernah di perbaiki ayahnya  semenjak Ayyash tidur dikamar itu. Ia melihat cahaya kecil keluar dari lobang itu.
Ayyash menarik selimutnya karena ketakutan. Dari celah – celah selimut itu, Ayyash masih memberanikan diri untuk mengintip cahaya putih yang keluar dari lubang kecil. Ayyash melihat dengan mata kepalanya sendiri, seorang gadis kecil berjalan menepi ke arah jendela dan mengambil bunga kohana dengan cepat. Belum sempat berbicara, gadis kecil itu menghilang sekejap mata.
Dengan bergegas, gadis kecil itu membawa bunga kohana keluar dari jendela dan berseluncur di atas dahan – dahan semak belukar. Ayyash berlari ke jendela, namun ia tak menemukan gadis kecil itu lagi. “Wah…! Aku mimpi kali ya! Mana ada gadis kecil seperti kurcaci itu di zaman sekarang.” Ujarnya sambil menggaruk – garuk kepala.
Gadis kecil itu berlari dengan cepat membawa satangkai bunga kohana. Dua ekor jangkrik melompat – lompat hendak merebut bunga kohana dari genggaman gadis kecil . Tap! Tap! Tap! Suara sepatu gadis itu dengan keras menghantam bebatuan kecil, sehingga membuat jakrik menghindar.
“Mama! Mama! Raissa mendapatkan Bunga kohana lagi,” ujarnya.
Ibu Raisa keluar dan mengambil bunga kohana dari tangan gadis kecil itu. “ Alhamdulillah, kamu luar biasa nak, syukurlah kita bisa makan hari ini.” Ibu Raissa bergegas lari kedapur dan memasak bunga kohana itu untuk keluarga mereka.
“Bu! Tadi saat Raissa mengambil bunga kohana di kamar manusia itu, sepertinya mereka tahu Bu,” ujarnya.
“Apa..!! manusia itu tau kalau kamu mengambil bunga kohana dari kamarnya? Gawat! Gawat! Ini sudah darurat. Kan Ibu sudah bilang, kamu boleh keluar tapi jangan pernah memperlihatkan diri kepada manusia.
“Papa! Papa! Bagaimana ini! sepertinya kita harus pergi dari rumah ini!” Ibunya Raissa terlihat cemas dan menghempaskan dirinya duduk di atas kursi kecil.
“Tenang Bu, sepertinya kita harus mencari jalan keluarnya. Satu – satunya adalah kita harus pergi dari tempat ini.  Malam ini Papa akan berpetualang untuk mengambil beberapa makanan di dapur manusia itu.”
“Papa mau pergi berpetualang? Raissa ikut pa,”Tanya gadis kecil itu.
“Baiklah, Papa akan membawa kamu berpetualang. Kamu harus mengambil gula di dapur manusia, papa akan membantumu.
Dengan sigap Raissa dan papanya mulai melompat –lompat di atas dedaunan kecil dan memanjat semak – semak belukar yang menjulang indah itu menuju ke arah dapur manusia. Sesampainya di dapur, dengan menggunakan pengait kecil, Raissa memanjat ke atas toples simpanan gula dan berhasil memasukkan gula putih ke dalam tasnya.
Kreet..! suara pintu terdengar seperti ada yang membuka. Raissa melihat Ayyash, anak raja kerajaan hutan itu masuk ke dapur. Raissa dan Ayahnya dengan cepat berlari ke arah jendela. Potongan gula kecil yang di kantongi Raissa terjatuh dan terhempas ke lantai. Ayyash memungut gula kecil itu, dan Ia melihat Raissa keluar dari jendela.
“Ayah! Apakah disini pernah hidup makhluk kecil?”
“Ya! Kira – kira 100 tahun lalu disini banyak manusia kecil. Bentuknya sama seperti kita, namun ukurannya sangatlah kecil. Dulu  Ayah dan Ibu pernah membuat rumah kecil untuk tempat tinggal mereka. Akan tetapi mereka sudah tak terlihat lagi. Apakah kau menemukannya anakku?”
“Sepertinya Aku melihatnya Ayah!”
“Jangan sakiti mereka ya! Sepertinya populasi manusia kecil itu sudah berkurang. Bersahabatlah dengan mereka. Ayah yakin merekalah yang mengambil bunga kohana di kamar Ayyash, karena bunga di taman itu sengaja Ayah tanam untuk mereka.”
Kemuadian Raja kerajaan itu pergi begitu saja meninggalkan Ayyash yang masih kebingungan. Ayyash masuk ke kamarnya dan melihat ke arah lobang kecil itu. Ayyash menaruh sepotong gula yang tak berhasil di bawa Raissa di depan lobang kecil itu.
“Bu! Sepertinya manusia itu baik bu! Gula yang Raissa jatuhkan tadi malam di tarok manusia itu di depan lobang kecil di kamarnya. Ini bu gulanya.” Raissa memberikan sepotong gula itu ke tangan Ibunya.
“Tidak! Tidak! Ini bahaya besar! besok pagi kita harus pergi dari rumah ini. Kita tidak boleh bertemu manusia.”
Mendengar perkataan Ibunya, Raissa berlari keluar rumahnya dan menuju ke taman. Seekor kucing mendekati Raissa dan berusaha untuk mecengkramnya. Raissa berlari ketakutan sehingga ia melompat ke atas dedaunan dan memanjat semak belukar.
Ayyash sedang duduk di depan jendela kamarnya sambil melihat ke arah langit yang di penuhi bintang. Raissa berteriak minta tolong dari luar jendela.
Ayyash tertegun melihat gadis kecil itu dan lansung membukakan jendela kamarnya. Raissa berlari dan bersembunyi di balik baju Ayyash tanpa rasa takut. Seekor kucing peliharaan Ayyash muncul di depan jendela. Ayyash mengambil kucing itu dan mengelusnya. Akan tetapi mata kucingnya masih saja mencari sesosok makhluk incarannya itu.
Ayyash mengeluarkan kucingnya dengan paksa dari kamar karena melihat gadis kecil itu bersembunyi di balik bajunya.
“Hellow..! kucingnya sudah pergi,” ujarnya. Raissa keluar dari balik baju Ayyash dan hendak berlari keluar jendela. Akan tetapi Ayyash dengan sigap menutup pintu jendela. Raissa menggigil ketakutan.
“Aku tidak akan menyakitimu, siapa namamu?” Ayyash mengulurkan tangannya ke arah Raissa. “ Ayo..! naiklah ke tanganku, aku tidak akan menyakitimu.”
Dengan perlahan Raissa naik ke tangan Ayyash. Ia masih terliat murung, Ayyash tersenyum kepadanya. “Siapa namamu putri kecil?”
Raissa berusaha mengangkat kepalanya. “Namaku Ra.. ra.. Raissa,” ujarnya dengan gagap.
“Namaku Ayyash, salam kenal putri kecil. Aku tidak akan menyakitimu. Pulanglah! barangkali keluargamu sedang mencarimu.” Dengan bergegas Raissa berlari keluar jendela dan menuju ke kamarnya.
Kerajaan hutan sedang mengalami musim hujan, Raissa dan keluarganya tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk pindah dan pergi dari rumah kerajaan itu, karena akan banyak katak, ular, dan sejenis hewan lainnya yang berkeliaran di musim hujan yang akan mengancam nyawa keluarga kecil mereka. Semenjak saat itu juga Raissa berusaha meyakinkan kedua orang tuanya, bahwa manusia itu baik.
“Tidak Raissa! Tidak! Ibu dan Ayah tidak akan membiarkanmu bergaul dengan manusia. Setelah musim hujan kita akan pergi dari tempat ini. Dulu populasi kita banyak nak, tapi sekarang hanya tinggal kau, ayah dan Ibu. Manusia – manusia itu telah meracun  populasi kita dengan racun kecoa, dan bahkan banyak saudaramu menjadi korban mesin penyedot serangga.”
Raissa seolah – olah merasa gagal untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Namun ia sering berkunjung ke kamar Ayyash untuk mendapatkan berbagai jenis makanan. Raissa membawa makanan itu kepada Ibunya, sambil berharap keluarganya akan berdamai dengan manusia.
“Mulai dari detik ini, kamu tidak boleh keluar Raissa! Kamu jangan mudah percaya dengan manusia, mereka punya seribu macam tipu muslihat untuk menjebak kita. Ibu akan menjagamu di kamar. Untuk kedepannya Ayah akan mencarikan kita makanan.”
Seminggu berlalu, musim penghujan tak kunjung berhenti. Persediaan makanan meraka sudah mulai habis. Sedangkan Ayah Raissa tak dapat keluar, karena satu – satunya celah tempat mereka keluar di huni oleh beberapa katak.
Ayyash tak lagi melihat Raissa, ia bergegas berlari ke gudang dan mengambil payung. Ayyash berjalan menuju ke taman di samping kerajaan. “Raissa! Raissa! Kamu dimana?” ujarnya sambil berteriak – teriak di antara lobang yang ada disamping kerajaan. Ia berharap Raissa mendengar teriakannya.
“Apakah Raissa dan keluarganya telah punah? Ah! Itu tidak mungkin.” Ayyash masih terus mondar – mandir di taman samping kerajaan.
“Bu! Pe’rsediaan makanan kita sudah habis. Apakah Ibu tak sayang pada Raissa. Izinkan Raissa untuk bertemu manusia itu Bu. Mereka baik pada Raissa, dan kita bisa hidup dengan tenang dan mendapatkan banyak makanan Bu.”
Ibu Raissa tak dapat berkata apa – apa lagi, Akhirnya Raissa mendapatkan izin untuk keluar dari rumahnya. Dengan sangat hati – hati Raissa berjalan di antara katak yang tertidur dengan pulas. Ia berlari menuju ke kaki Ayyash dan berusaha memanjat ke kerah bajunya.
“Hei! Kamu mencariku?” tanyanya.
“Astagfirullah!” Ayyash terperanjak kaget melihat Raissa putri kecil itu sudah berada di pundaknya.
“Kamu kemana saja? Apakah kamu dan keluargamu mendapat makanan?”
Raissa tidak menjawab pertanyaan Ayyash. “Baiklah, aku akan memberikanmu  makanan dan mengantarkanmu ke pintu rumahmu.”
Setelah mendapatkan makanan, Raissa di antar ke lobang kecil tempat tinggal mereka. Selama musim hujan Raissa dan keluarganya makan dari hasil pemberian Ayyash.
“Bu! Sudah hampir satu bulan musim hujan datang, dan semenjak itu juga kita makan dari hasil pemberian manusia. ‘Besok pagi kita akan memenjat ke semak – semak belukar di samping kamar Ayyash,’ kata ayahnya. ‘Kita harus menemui mereka walaupun masih dalam keadaan hujan deras. Ayah akan berusaha untuk mengusir jangkrik dan katak yang menghalangi kita untuk keluar dari rumah ini.”
Keesokan harinya Raissa dan keluarganya berusaha untuk keluar rumah, mereka berlari dengan cepat dan bergantungan di antara semak semak belukar menuju ke kamar Ayyash. Sesampainya di jendela kamar, Ayyash menyambut mereka dengan hangat dan memberikan beberapa potong makanan.
Ayyash mengulurkan tangannya, Raissa dan keluarganya naik dan duduk di atas tangan Ayyash.
“Ayah! Ibu! Ayyash mau bicara,” ujarnya. Orang tua Ayyash bergegas masuk ke kamar Ayyash.
“Ada apa nak? Apakah kamu membutuhkan sesuatu?”
Ayyash tak menjawab pertanyaaan kedua orang tuanya. Secara spontan Ayyash mengacungkan tangannya kepada Ayah dan Ibunya untuk memperlihatkan apa yang ada di tanggannnya. Ayyash memperkenalkan Putri kecil Raissa dan keluarga kecil mereka kepada Ayahnya.
Semenjak hari itu Raissa dan keluarganya tinggal di dalam istana kecil di dalam kerajaan. Istana kecil itu dilengkapi dengan berbagai pernak – pernik isi rumah layaknya tempat tinggal manusia.
“Raissa! Raissa! Ayah membuatkan ramuan khusus pengecil badan. Kita bisa mengajak  Ayyash dan keluarganya untuk berpetualang. Sekarang kamu tawarkan ramuan ini kepada mereka ya,” ujar Papa Raissa.
Raissa mengambil ramuan itu dan memberikan kepada keluarga Ayyash. Sejak hari itu, kerajaan hutan sering berpetualang dan melakukan perjalan luar biasa bersama putri kecil. Mereka bermain dengan girang, molompat di antara dedaunan semak belukar, memakan bunga kohana, serta memerangi katak, jangkrik, ular, dan binatang lainnya bersama keluarga kerajaan.
“Sungguh! Ini adalah perjalanan yang luar biasa yang pernah Ayyash rasakan Ayah! Apalagi bertemu dengan putri kecil dan keluarganya.” Kedua orang tua Ayyash hanya tersenyum saja menyaksikan kegembiraan yang dirasakan oleh putra semata wayangnya itu.
TAMAT