Sabtu, 21 Maret 2015

Di Pematang Sawah


Sebelum berangkat ke sawah pagi ini, Aku tak lupa memasang manset, kaus kali dan kerudung. Aku berjalan dengan santai menelusuri semak belukar, dan sesekali berlari – lari kecil mengikuti langkah kaki Ibu. Ibu berjalan dengan sangat cepat, “ Ibu! Tunggu Nia.”
“Cepatlah nak, Ibu sudah terlambat.”
Akhirnya aku berlari mengejar Ibu. Jalan yang biasa di tempuh Ibu berangkat bekerja hanyalah jalan setapak. Di samping kiri dan kanan jalan itu di penuhi semak belukar. Hanya cukup dilalui satu orang saja. Di sepanjang perjalanan, tidak ada hiruk pikuk suasana jalan yang biasa terdengar. Yang ada hanyalah kicauan burung yang terdengar merdu, embun pagipun masih belum kering.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya aku dan Ibu sampai di sawah. Tampaknya Ibu berjalan dengan tenang. Akupun berlari mengejarnya dan Brukk! Aku terjatuh ke dalam sawah. Akhirnya seluruh tubuhku berlumuran lumpur sawah yang baru saja di garap. Ibu melihat ke belakang, “ Nia kenapa mencebur kesawah?”
“Nia, tidak mencebur Ibu, Nia Jatuh dari pematang sawah”
“Makanya, kalau jalan itu hati – hati. Jadi basahkan anaknya Ibu. Lihat tuh! Bajunya sudah kotor semua” haha.
Oh, no. Sepertinya Ibu benar – benar senang melihat aku jatuh kesawah.
            Ibu mana yang mau menertawakan anaknya masuk ke dalam sawah? Ibu mana yang meninggalkan anaknya yang berlumur lumpur begitu saja? Tidakkah Ibu berniat untuk mengulurkan tangan dan membantu?. Lagi dan lagi, aku terus menggerutu di dalam hati.
Aku berusaha untuk naik ke pematang sawah, dan berjalan mengikuti Ibu. Ibu sudah duduk di atas kursi panjang di dalam gubuk kecil yang berdiri kokoh di tengah – tengah sawah. Sesekali aku melihat ke depan, Ibu masih saja tersenyum lebar menyaksiskan aku yang berlumuran lumpur sawah. Aku terus berjalan,”Nia! Cepatlah kemari! Duduklah di samping Ibu.” Aku berjalan cepat dan lansung duduk di samping Ibu. Lagi dan lagi Ibu tersenyum dan tertawa. Haha!. Aku hanya diam saja.
“Bagaimana rasanya masuk sawah? Enak? Aku hanya diam dan memasang wajah cemberut kepada Ibu.
“Begitulah nak, ketika kita bermain ke sawah resikonya baju kita menjadi kotor. Kita tidak pernah mengenakan pakayan yang bersih, memakai dasi, menyandang tas serta sepatu yang mengkilat. Tetapi inilah kita nak. Di luar sana, banyak orang yang membayangkan petani hanya sebagai sosok hitam, kurus, memakai baju lusuh dan topi segitiga di kepalanya. Tapi bayangkan apa jadinya negara tanpa kehadiran para petani. Nia, apakah kamu merasa bangga jika Ibu dan Ayah adalah petani?
“Iya Bu, Nia merasa bangga. Bagi Nia Petani adalah sosok yang luar biasa Bu. Tampa kita, boleh jadi orang – orang kaya itu bukanlah apa – apa Bu.” Ibu tersenyum dan mengusap kepalaku.
“Ibu senang ya kalau melihat Nia jatuh ke sawah?”, “Tidak nak, bukan begitu,hanya saja Ibu kagum dengan putri Ibu yang satu ini. Ibu yakin, suatu saat kelak Nia akan jadi sarjana yang sukses. Sudahlah! Anak Ibu pasti kedinginankan? Ayo ganti baju sana! Tadi Ibu sengaja membawa baju untuk Nia.”
“Terimakasih Bu, Nia akan membersihkan lumpur ini dulu ke sungai. Ibu makanlah dulu sebelum bekerja. Dah Ibu!” Aku berlari menuju ke ke sungai dan membersihkan lumpur yang menempel ditubuhku. Aku merasa sangat bersyukur punya Ibu seorang petani, dan merasa menyesal karena kesal melihat Ibu yang tidak membantuku keluar dari sawah. Nikmat Allah itu benar – benar luar biasa. Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar