Sebelum
berangkat ke sawah pagi ini, Aku tak lupa memasang manset, kaus kali dan
kerudung. Aku berjalan dengan santai menelusuri semak belukar, dan sesekali
berlari – lari kecil mengikuti langkah kaki Ibu. Ibu berjalan dengan sangat
cepat, “ Ibu! Tunggu Nia.”
“Cepatlah
nak, Ibu sudah terlambat.”
Akhirnya
aku berlari mengejar Ibu. Jalan yang biasa di tempuh Ibu berangkat bekerja
hanyalah jalan setapak. Di samping kiri dan kanan jalan itu di penuhi semak
belukar. Hanya cukup dilalui satu orang saja. Di sepanjang perjalanan, tidak
ada hiruk pikuk suasana jalan yang biasa terdengar. Yang ada hanyalah kicauan burung
yang terdengar merdu, embun pagipun masih belum kering.
Setelah
berjalan beberapa menit, akhirnya aku dan Ibu sampai di sawah. Tampaknya Ibu
berjalan dengan tenang. Akupun berlari mengejarnya dan Brukk! Aku terjatuh ke dalam sawah. Akhirnya seluruh tubuhku
berlumuran lumpur sawah yang baru saja di garap. Ibu melihat ke belakang, “ Nia
kenapa mencebur kesawah?”
“Nia,
tidak mencebur Ibu, Nia Jatuh dari pematang sawah”
“Makanya,
kalau jalan itu hati – hati. Jadi basahkan anaknya Ibu. Lihat tuh! Bajunya
sudah kotor semua” haha.
Oh, no.
Sepertinya Ibu benar – benar senang melihat aku jatuh kesawah.
Ibu mana yang mau menertawakan
anaknya masuk ke dalam sawah? Ibu mana yang meninggalkan anaknya yang berlumur
lumpur begitu saja? Tidakkah Ibu berniat untuk mengulurkan tangan dan
membantu?. Lagi dan lagi, aku terus menggerutu di dalam hati.
Aku
berusaha untuk naik ke pematang sawah, dan berjalan mengikuti Ibu. Ibu sudah
duduk di atas kursi panjang di dalam gubuk kecil yang berdiri kokoh di tengah –
tengah sawah. Sesekali aku melihat ke depan, Ibu masih saja tersenyum lebar
menyaksiskan aku yang berlumuran lumpur sawah. Aku terus berjalan,”Nia!
Cepatlah kemari! Duduklah di samping Ibu.” Aku berjalan cepat dan lansung duduk
di samping Ibu. Lagi dan lagi Ibu tersenyum dan tertawa. Haha!. Aku hanya diam saja.
“Bagaimana
rasanya masuk sawah? Enak? Aku hanya diam dan memasang wajah cemberut kepada
Ibu.
“Begitulah nak, ketika kita bermain
ke sawah resikonya baju kita menjadi kotor. Kita tidak pernah mengenakan
pakayan yang bersih, memakai dasi, menyandang tas serta sepatu yang mengkilat.
Tetapi inilah kita nak. Di luar sana, banyak orang yang membayangkan petani
hanya sebagai sosok hitam, kurus, memakai baju lusuh dan topi segitiga di
kepalanya. Tapi bayangkan apa jadinya negara tanpa kehadiran para petani. Nia,
apakah kamu merasa bangga jika Ibu dan Ayah adalah petani?
“Iya
Bu, Nia merasa bangga. Bagi Nia Petani adalah sosok yang luar biasa Bu. Tampa
kita, boleh jadi orang – orang kaya itu bukanlah apa – apa Bu.” Ibu tersenyum
dan mengusap kepalaku.
“Ibu
senang ya kalau melihat Nia jatuh ke sawah?”, “Tidak nak, bukan begitu,hanya
saja Ibu kagum dengan putri Ibu yang satu ini. Ibu yakin, suatu saat kelak Nia
akan jadi sarjana yang sukses. Sudahlah! Anak Ibu pasti kedinginankan? Ayo
ganti baju sana! Tadi Ibu sengaja membawa baju untuk Nia.”
“Terimakasih
Bu, Nia akan membersihkan lumpur ini dulu ke sungai. Ibu makanlah dulu sebelum
bekerja. Dah Ibu!” Aku berlari menuju
ke ke sungai dan membersihkan lumpur yang menempel ditubuhku. Aku merasa sangat
bersyukur punya Ibu seorang petani, dan merasa menyesal karena kesal melihat
Ibu yang tidak membantuku keluar dari sawah. Nikmat Allah itu benar – benar
luar biasa. Fabiayyi aalaa irabbikumaa
tukadzibaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar