Ibuku adalah sosok yang luar
biasa. Mampukah aku sepertinya? Aku masih ingat, di pagi hari yang cerah itu
Ibu sudah mulai menghidangkan makanan untuk kami makan. Aku dan kedua adikku
ingin sesegera mungkin untuk mulai menyantap sarapan pagi itu. Adikku Aziz dan
Febria makan dengan lahap. Ketika kami sedang
makan, Ibu hanya melihat saja. Akupun mulai menyadarinya, ternyata sambal hanya
sedikit, hanya untuk kami saja. Aku
menatapnya sembari berkata, "Ibu tidak makan?"
“Ibu sudah makan, kalian lanjutkan saja dulu"
***
Hari
itu adalah hari Minggu, Aku hendak meminta uang untuk keperluan kuliah kepada
Ibu, "Ibu, Nia besok akan ke Padang, tetapi tidak ada uang".
"Ibu sudah ada uang nak, besok sebelum berangkat ke
Padang akan Ibu berikan."
Akupun menyadarinya. Ibu benar benar tidak ada uang, dan
akhirnya meminjam ke pada tetangga. Hanya saja Ibu tidak mengatakannya. Aku
tau, setiap hari Ibu pastri kelelahan. Namun masih saja terlihat tegar dan kuat
di hadapan kami. Aku tau, Ibu adalah pembohong! sengaja berbohong agar kami
tidak merasa sedih. Aku tau, Ibuku tak punya pendidikan yang tinggi. Namun
beliau adalah orang sukses. Sukses kenapa? Ibuku telah sukses menjaga amanah
titipan Allah yaitu Aku dan kedua adikku Febria dan Aziz.
Mampukah aku sepertinya? Bahkan ketika
Aku di hadapkan dengan berbagai ujian, Aku sering merasa mengeluh, seolah olah
tak ada harapan. Ketika Aku di uji, aku sering kali meneteskan air mata karena
Aku benar benar tak mampu lagi untuk membendungnya. Jauh berbeda dengan sikap
Ibu.
Aku merindukannya.
Aku benar benar merindukannya.
Aku ingin melihat senyumannya.
Aku ingin melihat semangatnya.
Namun aku tak bisa berbuat, selain
ku titip do'a kepada-Nya.
kepada Dia Sang pemilik
jiwa-jiwa..