Sabtu, 21 Maret 2015

Sosok yang Menginspirasi


Ibuku adalah sosok yang luar biasa. Mampukah aku sepertinya? Aku masih ingat, di pagi hari yang cerah itu Ibu sudah mulai menghidangkan makanan untuk kami makan. Aku dan kedua adikku ingin sesegera mungkin untuk mulai menyantap sarapan pagi itu. Adikku Aziz dan Febria makan dengan lahap. Ketika kami sedang makan, Ibu hanya melihat saja. Akupun mulai menyadarinya, ternyata sambal hanya sedikit, hanya untuk kami saja. Aku menatapnya sembari berkata, "Ibu tidak makan?"
“Ibu sudah makan, kalian lanjutkan saja dulu"
***
Hari itu adalah hari Minggu, Aku hendak meminta uang untuk keperluan kuliah kepada Ibu, "Ibu, Nia besok akan ke Padang, tetapi tidak ada uang".
"Ibu sudah ada uang nak, besok sebelum berangkat ke Padang akan Ibu berikan."
Akupun menyadarinya. Ibu benar benar tidak ada uang, dan akhirnya meminjam ke pada tetangga. Hanya saja Ibu tidak mengatakannya. Aku tau, setiap hari Ibu pastri kelelahan. Namun masih saja terlihat tegar dan kuat di hadapan kami. Aku tau, Ibu adalah pembohong! sengaja berbohong agar kami tidak merasa sedih. Aku tau, Ibuku tak punya pendidikan yang tinggi. Namun beliau adalah orang sukses. Sukses kenapa? Ibuku telah sukses menjaga amanah titipan Allah yaitu Aku dan kedua adikku Febria dan Aziz.
Mampukah aku sepertinya? Bahkan ketika Aku di hadapkan dengan berbagai ujian, Aku sering merasa mengeluh, seolah olah tak ada harapan. Ketika Aku di uji, aku sering kali meneteskan air mata karena Aku benar benar tak mampu lagi untuk membendungnya. Jauh berbeda dengan sikap Ibu.
Aku merindukannya.
Aku benar benar merindukannya.
Aku ingin melihat senyumannya.
Aku ingin melihat semangatnya.
Namun aku tak bisa berbuat, selain ku titip do'a kepada-Nya.
kepada Dia Sang pemilik jiwa-jiwa..

Di Pematang Sawah


Sebelum berangkat ke sawah pagi ini, Aku tak lupa memasang manset, kaus kali dan kerudung. Aku berjalan dengan santai menelusuri semak belukar, dan sesekali berlari – lari kecil mengikuti langkah kaki Ibu. Ibu berjalan dengan sangat cepat, “ Ibu! Tunggu Nia.”
“Cepatlah nak, Ibu sudah terlambat.”
Akhirnya aku berlari mengejar Ibu. Jalan yang biasa di tempuh Ibu berangkat bekerja hanyalah jalan setapak. Di samping kiri dan kanan jalan itu di penuhi semak belukar. Hanya cukup dilalui satu orang saja. Di sepanjang perjalanan, tidak ada hiruk pikuk suasana jalan yang biasa terdengar. Yang ada hanyalah kicauan burung yang terdengar merdu, embun pagipun masih belum kering.
Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya aku dan Ibu sampai di sawah. Tampaknya Ibu berjalan dengan tenang. Akupun berlari mengejarnya dan Brukk! Aku terjatuh ke dalam sawah. Akhirnya seluruh tubuhku berlumuran lumpur sawah yang baru saja di garap. Ibu melihat ke belakang, “ Nia kenapa mencebur kesawah?”
“Nia, tidak mencebur Ibu, Nia Jatuh dari pematang sawah”
“Makanya, kalau jalan itu hati – hati. Jadi basahkan anaknya Ibu. Lihat tuh! Bajunya sudah kotor semua” haha.
Oh, no. Sepertinya Ibu benar – benar senang melihat aku jatuh kesawah.
            Ibu mana yang mau menertawakan anaknya masuk ke dalam sawah? Ibu mana yang meninggalkan anaknya yang berlumur lumpur begitu saja? Tidakkah Ibu berniat untuk mengulurkan tangan dan membantu?. Lagi dan lagi, aku terus menggerutu di dalam hati.
Aku berusaha untuk naik ke pematang sawah, dan berjalan mengikuti Ibu. Ibu sudah duduk di atas kursi panjang di dalam gubuk kecil yang berdiri kokoh di tengah – tengah sawah. Sesekali aku melihat ke depan, Ibu masih saja tersenyum lebar menyaksiskan aku yang berlumuran lumpur sawah. Aku terus berjalan,”Nia! Cepatlah kemari! Duduklah di samping Ibu.” Aku berjalan cepat dan lansung duduk di samping Ibu. Lagi dan lagi Ibu tersenyum dan tertawa. Haha!. Aku hanya diam saja.
“Bagaimana rasanya masuk sawah? Enak? Aku hanya diam dan memasang wajah cemberut kepada Ibu.
“Begitulah nak, ketika kita bermain ke sawah resikonya baju kita menjadi kotor. Kita tidak pernah mengenakan pakayan yang bersih, memakai dasi, menyandang tas serta sepatu yang mengkilat. Tetapi inilah kita nak. Di luar sana, banyak orang yang membayangkan petani hanya sebagai sosok hitam, kurus, memakai baju lusuh dan topi segitiga di kepalanya. Tapi bayangkan apa jadinya negara tanpa kehadiran para petani. Nia, apakah kamu merasa bangga jika Ibu dan Ayah adalah petani?
“Iya Bu, Nia merasa bangga. Bagi Nia Petani adalah sosok yang luar biasa Bu. Tampa kita, boleh jadi orang – orang kaya itu bukanlah apa – apa Bu.” Ibu tersenyum dan mengusap kepalaku.
“Ibu senang ya kalau melihat Nia jatuh ke sawah?”, “Tidak nak, bukan begitu,hanya saja Ibu kagum dengan putri Ibu yang satu ini. Ibu yakin, suatu saat kelak Nia akan jadi sarjana yang sukses. Sudahlah! Anak Ibu pasti kedinginankan? Ayo ganti baju sana! Tadi Ibu sengaja membawa baju untuk Nia.”
“Terimakasih Bu, Nia akan membersihkan lumpur ini dulu ke sungai. Ibu makanlah dulu sebelum bekerja. Dah Ibu!” Aku berlari menuju ke ke sungai dan membersihkan lumpur yang menempel ditubuhku. Aku merasa sangat bersyukur punya Ibu seorang petani, dan merasa menyesal karena kesal melihat Ibu yang tidak membantuku keluar dari sawah. Nikmat Allah itu benar – benar luar biasa. Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan.