Senin, 09 Maret 2015

Sepucuk Surat Untuk Aktifis Dakwah


SEPUCUK SURAT UNTUK AKTIFIS DAKWAH
“Surat yang kutulis bukan hanya sekedar surat biasa, tetapi ungkapan hati tentang Engkau yang tak kenal lelah dalam berjuang “
( Zinnirah – 2015 )

Bismillahirrahmaanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Subhanallah, nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW.
Ana awali tulisan ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah. Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi ini, Insya Allah.
Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati, fahia asrorul hayat …” (Jangan tanyakan aku tentang hidupku. Ia adalah sebuah rahasia kehidupan.... )
Kesempurnaan adalah sebuah hal yang mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita ‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang kontinyu?

Ikhwahfillah
Untukmu  aktivis dakwah, bagaimanakah kabar sang iman apakah ia masih melekat di dinding-dinding hati kita? Apakah dia senantiasa menemani setiap langkah-langkah kaki dan ayunan tangan yang senantiasa merasa ringan karenanya ?.

Dalam kehidupan sehari-hari, mari kita ilustrasikan bahwa Dakwah ibaratkan seekor Monyet yang sedang memanjat pohon pisang, dan ternyata ada tiga angin yang menyerang Monyet tersebut diantaranya angin topan, bohorok, dan puting beliung. Nah,,, dalam kondisi ini, Monyet tersebut pasti akan kuat pegangannya. Dalam kondisi yang berbeda, secara tiba-tiba datang angin sepoi sepoi, dan mengincar ubun-ubun si-Monyet tersebut. Secara perlahan, tapi pasti si-Monyet tersebut akan merasakan ketenangan, matanya mulai meredup, pegangannya yang kuat mulai lepas, dan akhirnya “ GUBRAKK…!!” si-Monyetpun jatuh.
Ya, ibaratkan seperti itulah Dakwah, jika di uji dengan sesuatu yang sempit, sedih, miskin dan sebagainya, kita pasti kuat. Namun ketika di uji dengan ketenangan, kesenangan sebentar saja kita sudah jatuh.
Ikhwahfillah,,
Sejatinya, Dakwah berkembang di tangan orang orang yang memiliki militansi serta semangat juang yang tidak pernah pudar. Seorang kader yang tulus dan bersemangat tinggi, pasti akan memiliki wawasan yang luas. Jika hanya berdakwah saja semua orang pasti bisa melakukannya tanpa terkecuali siapapun, tapi apakah antum bisa cinta dengan dakwah? Cinta itu butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan harta.
Ikhwah,
FORMI MADANI dalah sebuah amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah ini. Perjalanan amanah ini menuntut profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ikhwah,
Adalah layak untuk kita mengevaluasi perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan amanah kita? Sudah banyak uang dan tenaga yang kita keluarkan dalam washilah ini, adakah itu sebanding dengan manfaat yang kita peroleh? Mari membuat daftar pertanyaan sebanyaknya!
Ikhwah,
Kalau jawabnya kita belum optimal, apa penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?
Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!
Ikhwah,
Ana yakin antum juga- punya sebuah ‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan pada kenyataan bahwa ana harus membuka pintu untuk keluar dan mencari para pejuang yang mengemban misi dakwah. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU, menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi.
Ikhwah, kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan, bersama mentari yang mengintip malu di balik awan di ufuk Timur. Dia bergumam: kapan kah gerangan para warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat Islam di bumi ini?
SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO ILAHI …………………….
Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga mekar di taman firdaus.
Bayangkan ……………..
Suatu hari antum terbangun di sepertiga akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di tubuh yang ringkih itu. Sesaat sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. MasyaAllah, suara itu milik tetangga sebelah kamar yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib yang tercoreng akibat perbuatannya ataupun keluarganya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud.
Tarikan nafas perlahan berusaha menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam perjalanan cinta yang akan antum lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua harap dan cinta bermuara. “Yaa ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …” lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda sebelah kamar antum..
Takbiratul ihram pun antum lantunkan penuh kesyahduan yang membawa rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.
Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Mereka … para pahlawan sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka.
Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.
Ikhwah,
Sampai saat ini Ana masih menyimpan rasa kagum kepada antum dan antunna semua. Kepada Akwat yang senantiasa menjaga dirinya, tatapan matanya yang penuh cinta, tutur katanya yang lembut serta khimarnya yang melambai panjang yang menambah pesona kecantikannya. Kepada ikhwan yang berjalan menghitung ubin ketika melihat seorang akhwat, celana goyang plus jenggotnya yang tipis. Ya, seperti itulah gambaran ikhwah secara kasat mata. Namun kekaguman itu hanyalah semata-mata karena Allah yang senantiasa menjagamu.
Masih Ana ingat, betapa semangatnya antum mengangkatkan sebuah acara ataupun kegiatan-kegiatan. Yang mana semangat itu belum pernah Ana temukan bersama Ormawa yang lain. Bagi ana, Antum adalah segalanya, karena Antum adalah para pengemban misi dakwah ini, Insya Allah.

Ikhwah,
Sejatinya, ada jutaan tipu daya yang akan menyerang antum, musuh bukanlah ia yang hanya mengemban misi dakwah saja, tapi bisa jadi musuh itu adalah diri antum sendiri. Waspadalah…!! Wahai para pejuang dakwah.
Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Kerinduan akan jannahNya semakin membuncah.
Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan menuju kampus hari ini. Dengan sepatu eiger ala ikhwah, kemudian tas ransel di punggung, jilbab cantik yang melambai lambai menyambut pagi yang indah.

Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang, tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu meningkatkan ruhiyah antum.
Innamal Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun kesalihan pribadi dan ummat. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat ukhuwah yang terangkai indah. Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.
Sekarang … buka lah mata antum, lihat lah kembali realita yang ada disekitar antum! Ternyata, kita belum dalam dunia indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera Barat tepatnya di Universitas Negeri Padang, yang sampai saat ini masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang di sini! Di Formi Madani, Forsis, Forsia, Formis, UKI, FKPWI,FSDI, dan Unit Kegiatan Kerohanian. Berjuang lewat LDK untuk sebuah tujuan mulia tegaknya izzah islam
Danperjalanan perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah abadi,
Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti
Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID MENGGAPAI SYURGA!
Karena itu ikhwah … Mari berkarya, dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang! Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan itu. AllahuAkbar!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar