SEPUCUK
SURAT UNTUK AKTIFIS DAKWAH
“Surat
yang kutulis bukan hanya sekedar surat biasa, tetapi ungkapan hati tentang
Engkau yang tak kenal lelah dalam berjuang “
(
Zinnirah – 2015 )
Bismillahirrahmaanirrahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarokatuh
Subhanallah,
nahmaduhu wa nastaghfiruhu, Ash-sholatu wassalamu ‘ala rasuluhu, Muhammad SAW.
Ana awali tulisan
ini dengan merangkai basmalah dan istighfar, semoga Allah menjaga untaian kata
ini dari berbagai fitnah, dan menjadikannya semata untuk perbaikan dakwah.
Sebab, pada Allah lah semuanya bermuara. Nur-Nya lah yang akan mampu menunjuki
kita pada perbaikan kualitas dalam mengemban amanah mewarisi misi para Nabi
ini, Insya Allah.
Bersama bait-bait nada ‘La Tas-aluni’ dari klub nasyid
Tarbiyah, ana menekan tuts-tuts keyboard, mengajak kita semua merenungi kembali
dan bertanya kembali tentang kehidupan kita ini. “La tas-aluni ‘an hayati,
fahia asrorul hayat …” (Jangan tanyakan
aku tentang hidupku. Ia adalah sebuah
rahasia kehidupan.... )
Kesempurnaan adalah sebuah hal yang
mustahil kita raih, dalam kapasitas apa pun. Namun, cukup lah ke-Maha
Sempurna-an Allah menjadi motivasi bagi kita untuk terus meningkatkan kualitas
amal kita. Karena, kita bergantung kepada zat yang Maha Sempurna, akan kah kita
‘merasa nyaman’ dengan berbagai kekerdilan diri kita tanpa upaya perbaikan yang
kontinyu?
Ikhwahfillah
Untukmu aktivis dakwah, bagaimanakah kabar sang iman
apakah ia masih melekat di dinding-dinding hati kita? Apakah dia senantiasa
menemani setiap langkah-langkah kaki dan ayunan tangan yang senantiasa merasa
ringan karenanya ?.
Dalam
kehidupan sehari-hari, mari kita ilustrasikan bahwa Dakwah ibaratkan seekor
Monyet yang sedang memanjat pohon pisang, dan ternyata ada tiga angin yang
menyerang Monyet tersebut diantaranya angin topan, bohorok, dan puting beliung.
Nah,,, dalam kondisi ini, Monyet tersebut pasti akan kuat pegangannya. Dalam
kondisi yang berbeda, secara tiba-tiba datang angin sepoi sepoi, dan mengincar
ubun-ubun si-Monyet tersebut. Secara perlahan, tapi pasti si-Monyet tersebut
akan merasakan ketenangan, matanya mulai meredup, pegangannya yang kuat mulai
lepas, dan akhirnya “ GUBRAKK…!!” si-Monyetpun jatuh.
Ya,
ibaratkan seperti itulah Dakwah, jika di uji dengan sesuatu yang sempit, sedih,
miskin dan sebagainya, kita pasti kuat. Namun ketika di uji dengan ketenangan,
kesenangan sebentar saja kita sudah jatuh.
Ikhwahfillah,,
Sejatinya,
Dakwah berkembang di tangan orang orang yang memiliki militansi serta semangat
juang yang tidak pernah pudar. Seorang kader yang tulus dan bersemangat tinggi,
pasti akan memiliki wawasan yang luas. Jika hanya berdakwah saja semua orang
pasti bisa melakukannya tanpa terkecuali siapapun, tapi apakah antum bisa cinta
dengan dakwah? Cinta itu butuh pengorbanan waktu, tenaga, dan harta.
Ikhwah,
FORMI MADANI dalah sebuah
amanah besar yang ada di pundak kita saat ini, dan di sekeliling kita, begitu
banyak ikhwah yang setia menanti karya-karya besar kita untuk akselarasi dan
sinergisasi gerak dakwah lewat wajihah ini. Perjalanan amanah ini menuntut
profesionalisme kerja dari kita semua. Amanah yang nantinya akan kita
pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Ikhwah,
Adalah layak untuk kita mengevaluasi
perjalanan amanah kita sampai hari ini. Sudah optimalkah kita menjalankan
amanah kita? Sudah banyak
uang dan tenaga yang kita keluarkan dalam washilah ini, adakah itu
sebanding dengan manfaat yang kita peroleh? Mari membuat daftar pertanyaan
sebanyaknya!
Ikhwah,
Kalau jawabnya kita belum optimal, apa
penyebabnya? Apakah pemahaman kita tentang washilah ini yang kurang, kemampuan
kita kah yang terbatas, atau –naudzu billah- ruh dakwah kita kah yang mulai
hambar? Kalau jawabnya tidak sebanding, apa yang harus kita lakukan? Manajemen
kita kah yang harus diperbaiki, atau memang washilah ini kurang tepat guna?
Mari cari jawaban dari tiap pertanyaan itu!
Ikhwah,
Ana yakin antum juga- punya sebuah
‘mimpi indah’. Mimpi yang membuat ana sedih, ketika di pagi hari ana dihadapkan
pada kenyataan bahwa ana harus membuka pintu untuk keluar dan mencari para pejuang yang
mengemban misi dakwah. Kesedihan yang kemudian ana sadari semestinya menjadi
bahan bakar ruh jihad dan nafas harokah islamiyyah. Antum tau, ketika itu aroma
yang tertangkap oleh indera pembau adalah aroma kering … aroma kelelahan zaman
menanti hadirnya sosok-sosok mujahid dakwah yang mengusung SEMANGAT BARU,
menapaki jejak-jejak pemuda Ash-Habul Kahfi mencari ridho Ilahi.
Ikhwah,
kegelisan zaman itu seakan berbisik lewat angin yang berhembus perlahan,
bersama mentari yang mengintip malu di balik awan di ufuk Timur. Dia bergumam: kapan kah gerangan para
warotsatul anbiya’ itu berteriak lantang untuk menebar semerbak harum syariat
Islam di bumi ini?
SEMANGAT BARU JEJAK PEMUDA ASH-HABUL KAHFI MENCARI RIDHO
ILAHI …………………….
Mimpi itu ikhwah, ana yakin bukan lah
cerita negeri dongeng, atau lakon kartun yang utopi. Mimpi itu hanyalah sebuah
harapan sederhana, yang berkisah tentang dakwah yang semerbak, bak bunga-bunga
mekar di taman firdaus.
Bayangkan ……………..
Suatu hari antum terbangun di sepertiga
akhir malam, sekitar jam 3 WIB. Setelah memanjatkan doa, antum bangkit dan
beranjak ke kamar mandi. Air wudhu mengaliri anggota tubuhnya meninggalkan
kesejukan yang lembut. Lalu pakaian sholat yang harum mulai antum rapikan di
tubuh yang ringkih itu. Sesaat
sebelum lafaz niat qiyamullail antum lantunkan, indera pendengar antum
menangkap sayup-sayup suara tangis yang syahdu menyayat hati. MasyaAllah, suara itu
milik tetangga sebelah
kamar yang sedang qiyamul lail juga. Bukan suara tangis menahan malu karena aib
yang tercoreng akibat perbuatannya
ataupun keluarganya. Antum pun tertegun sesaat, sembari menggeser posisi
sajadah yang mulai ‘kumal’ di ujungnya, pertanda sering dipakai sujud.
Tarikan nafas perlahan berusaha
menghadirkan segenap molekul tubuh, dalam perjalanan cinta yang akan antum
lakukan, menemui zat yang antum akui sebagai Ilah, zat yang padaNya, semua
harap dan cinta bermuara. “Yaa
ayyuhal-ladziina aamanuu, hal adullukum ‘alaa tijaarotin tunjiikum min ‘adzabin
aliim? Tu’minuuna billaahi wa rosuulihii wa tujaahiduuna fi sabiilillah …”
lamat-lamat lantunan kalam ilahi itu kembali menyita perhatian antum. Suara itu
mengalun syahdu diiringi sesekali isak tangis, seirama dengan tiap kata yang
terucap. Pemiliknya tak lain adalah pemuda sebelah kamar antum..
Takbiratul ihram pun antum lantunkan
penuh kesyahduan yang membawa
rindu membuncah, bertemu dengan Rabb sekalian alam.
Suara adzan di masjid mengakhiri untaian do’a panjang
antum. Sebuah doa yang berisi pengaduan akan begitu banyak kelemahan dan
kesalahan diri, dalam mengemban amanah menjadi khalifah Allah di bumi, amanah
yang sebelumnya ditolak oleh seluruh langit dan bumi. Mereka … para pahlawan
sejati yang telah menukar Ridha Allah dengan harta, tenaga, dan jiwa mereka.
Mereka … para petarung yang tak pernah surut walau
selangkah, dan tak pernah henti walau sejenak. Mereka yang dengan lantang
selalu meneriakkan: ALLAHU AKBAR!!! Dalam tiap ritme perjuangannya.
Ikhwah,
Sampai saat ini Ana masih menyimpan rasa kagum kepada antum
dan antunna semua. Kepada Akwat yang senantiasa menjaga dirinya, tatapan
matanya yang penuh cinta, tutur katanya yang lembut serta khimarnya yang
melambai panjang yang menambah pesona kecantikannya. Kepada ikhwan yang
berjalan menghitung ubin ketika melihat seorang akhwat, celana goyang plus jenggotnya yang tipis. Ya, seperti
itulah gambaran ikhwah secara kasat mata. Namun kekaguman itu hanyalah
semata-mata karena Allah yang senantiasa menjagamu.
Masih
Ana ingat, betapa semangatnya antum mengangkatkan sebuah acara ataupun
kegiatan-kegiatan. Yang mana semangat itu belum pernah Ana temukan bersama
Ormawa yang lain. Bagi ana, Antum adalah segalanya, karena Antum adalah para
pengemban misi dakwah ini, Insya Allah.
Ikhwah,
Sejatinya, ada jutaan tipu daya yang akan menyerang antum,
musuh bukanlah ia yang hanya mengemban misi dakwah saja, tapi bisa jadi musuh
itu adalah diri antum sendiri. Waspadalah…!! Wahai para pejuang dakwah.
Hampir saja antum tidak mendapat tempat dalam barisan
jamaah shalat shubuh, karena antum tiba terlambat, tepat saat muadzzin membaca
iqomat. Seluruh jamaah berdiri dalam shaf yang rapi. Pakaian rapi melengkapi
wajah-wajah teduh yang selalu terbasuh air wudhu itu. Kerinduan akan jannahNya
semakin membuncah.
Jam menunjukkan pukul tujuh ketika antum
membaca doa keluar rumah, dan mengawali langkah dengan kaki kanan. Antum akan
menuju kampus hari ini.
Dengan sepatu eiger ala ikhwah, kemudian tas ransel di punggung, jilbab cantik
yang melambai lambai menyambut pagi yang indah.
Sampai di kampus, antum menikmati kuliah dengan tenang,
tanpa harus khawatir akan terkena zina mata, zina hati de-el-el, karena
semuanya berjalan dalam sebuah sistem qurani. Setiap bahasan akan mampu
meningkatkan ruhiyah antum.
Innamal
Mu’minuuna ikhwah … Hari itu antum lalui dengan aktivitas yang membangun kesalihan
pribadi dan ummat. Antum saksikan pula bagaimana Allah memenangkan hambaNya lewat
ukhuwah yang
terangkai indah. Islam
adalah rahmatan lil
‘alamin.
Sekarang … buka lah mata antum, lihat
lah kembali realita
yang ada disekitar antum! Ternyata, kita belum dalam dunia
indah tadi! Kita masih di sini! Di Sumatera Barat tepatnya di Universitas Negeri Padang, yang sampai
saat ini masih menanti perjuangan para mujahid. Kita masih berjuang
di sini! Di Formi
Madani, Forsis, Forsia, Formis, UKI, FKPWI,FSDI, dan Unit Kegiatan Kerohanian. Berjuang lewat
LDK untuk sebuah tujuan
mulia tegaknya izzah islam
Dan…
perjalanan
perjuangan itu ikhwah. Masih jauh … hampir tak bertemu ujung. Penuh aral nan
melintang, penuh onak dan duri. Karena Langkah ini adalah langkah-langkah
abadi,
Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti
Menapak tegak laju tanpa henti. Tak pernah rasa rugi menapak jalan ini, Syurga Allah menanti
Sekali lagi ikhwah, kita masih di sini! Di jalan dakwah
ini! Kita di sini untuk berjuang! Setia mengusung cita: HIDUP MULIA ATAU SYAHID
MENGGAPAI SYURGA!
Karena itu ikhwah … Mari berkarya,
dengan yang terbaik yang kita punya tentunya. Jangan pernah malas dan jemu
berkorban untuk perniagaan ini! Berjuanglah ikhwah! Dan teruslah berjuang!
Sampai Allah, RasulNya dan orang-orang mukmin menjadi saksi akan perjuangan
itu. AllahuAkbar!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar