SESAT
KE JALAN YANG BENAR
Semenjak
kenal dengan Kak Ida, Aku sering mendapatkan kata – kata mutiara, dan terkadang
menyebalkan serta seolah – olah menggurui. Namun tak ada yang dapat aku
lakukan, toh! Yang dikatakan Kak Ida adalah benar.
Nia,
kecil yang selalu merasa kebingungan itu akhirnya di tawari Kak Ida untuk mencarikan
solusi tempat tinggal.
“Assalamu’alaikum Fitri, afwan,
ukhti dimana? Ini ada adik yang mencari tempat tinggal, ana sekarang di
pustaka, , bla bla bla.” Panjang lebar Kak Ida berbicara dengan
telvon genggamnya. Aku hanya menunggu saja. Sebal sih! Apalagi ngomongnya pake
bahasa aneh ( bahasa afwan, ana dan sebagainya itu aku anggap bahasa
planet). Tak lama kemudian, orang yang di sebut Kak Ida di telvon tadi sudah
muncul, eh datang maksudnya.
“Assalamu’alaikum, siapa namanya dek.”
Kakak berjilbab besar itu mengulurkan tangannya kepadaku ( gaya bersalamannya juga aneh, peke di putar – putar segala ),
kemudian merangkulku dengan lembut ( wah
, wah, baru kenal kok udah berani cipika cipiki ya,, sereeemm dah!). aku
memperkenalkan namaku serta kampung halamanku. Ya udah! Itu aja dulu.. ha ha.
Kak
Fitri mengajakku ke sebuah rumah, kalau ngak salah namanya sih wisma. Tapi
bentuknya sama seperti rumah, namanya kok ribet amat ya.
“Ini dek,tempatnya, silahkan
dilihat – lihat dulu.” Sambil berjalan Kak Fitri mulai menjelaskan seluruh bagian rumahnya, mulai dari
kamar tidur, kamar mandi, tempat sholat, ruang makan, tempat menjemur pakayan,
dapur dan tempat sepatu. Semua kelebihan di wisma semuanya di jelaskan ( lalu kekurangannya kapan?).
“Bagaimana Nia? Apakah suka dengan
kondisinya?” dengan spontan saya lansung menjawab, “ Suka kak.”
“Nah! Tinggal disini ada
peraturannya dek, mungkin Nia bisa melihatnya disini , sambil menyodorkan
sebuah kertas. Silahkan di baca dulu!” aku mulai membaca
semua peraturan yang tertulis rapi di kertas itu, tapi kok ribet amat ya hidup
disini, semuanya serba ada aturan, sampai – sampai makanpun ada aturannya, aku
membacanya sambil ngomel ngomel melihat peraturan yang serba ketat itu. Saking shocknya keningku mulai keriput untuk
memahaminya. “ kenapa Nia? Ada yang bisa
kakak bantu?” secara spontan kak Fitri mulai menjelaskan semua aturannya,
mulai dari cara bergaul, cara berpakayan ( wajib pakai kaus, rok, baju panjang,
manset dan jilbab lapis ), cara makan, piket masak, piket kebersihan dan
sebagainya, jika terdapat pelanggaran maka akan dikenakan Surat Peringatan.
Bagi pelanggaran terberat ( Pacaran ) akan dikeluarkan dari wisma.
Alamakk..!!
panjang dan cukup banyak aturan. Sebenarnya berat juga untuk menjalankannya.
Karena tidak ada pilihan lain, secara terpaksa aku lansung katakan, “ Ya Kak, Insya Allah Nia sudah OK untuk
tinggal di wisma.”
***
Semenjak
hari itu, aku telah putuskan untuk tinggal di wisma. Walaupun dalam keadaan
terpaksa. Satu persatu semua aturan itu aku jalankan walaupun masih ada yang
terlanggar. Di awal masuk wisma, suatu hal yang membuat aku paling jijik adalah
“Tradisi makan pakai talam”,aku benar
– benar muak dengan aturan itu, ketika makan ada – ada saja yang membuat perut
terasa mual, apalagi melihat tangan – tangan yang bergerak mengambil nasi serta
dengan bebasnya memegang sambal. Isshh…!
Terasa sangat jorok, apalagi ditambah dengan kuah sayur yang tergenang.
Ah!
Sudahlah! Terlalu panjang untuk di tuliskan lembaran kisah yang tak menarik
itu. Yang paling penting semua suka dan duka itu seolah – olah terasa indah.
Disini ( wisma ) semua serba berjama’ah,
saling menasehati, dan Insya Allah berlomba – lomba dalam kebaikan.
Sesuatu
hal yang tak dapat aku sembunyikan, selama tinggal di wisma adalah nikmatnya ukhuwah. Semua aturan yang dulu amat
rumit, sekarang ku jalani biasa saja. Tak ada yang memberatkan, dan yang tak kalah
penting dan harus di ingat adalah Aku telah sesat, “ Tersesat ke jalan yang benar.”
“Dan aku benar – benar sadar, Allah
punya rencana yang indah untuk hamba-Nya. Boleh jadi hamba-Nya akan di uji
dengan berbagai ujian untuk mendapatkan sesuatu yang manis. Tetaplah berjuang,
boleh jadi apa yang tidak engkau sukai itu adalah jalan yang terbaik yang Allah
berikan dan Hidayah Allah itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi kamulah
yang menjemputnya. Iya! Kamu! Gadis kampung!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar