Kamis, 03 November 2016

Sesat ke Jalan yang Benar


SESAT KE JALAN YANG BENAR
Semenjak kenal dengan Kak Ida, Aku sering mendapatkan kata – kata mutiara, dan terkadang menyebalkan serta seolah – olah menggurui. Namun tak ada yang dapat aku lakukan, toh! Yang dikatakan Kak Ida adalah benar.
Nia, kecil yang selalu merasa kebingungan itu akhirnya di tawari Kak Ida untuk mencarikan solusi tempat tinggal.
“Assalamu’alaikum Fitri, afwan, ukhti dimana? Ini ada adik yang mencari tempat tinggal, ana sekarang di pustaka, , bla bla bla.” Panjang lebar Kak Ida berbicara dengan telvon genggamnya. Aku hanya menunggu saja. Sebal sih! Apalagi ngomongnya pake bahasa aneh ( bahasa afwan, ana dan sebagainya itu aku anggap bahasa planet). Tak lama kemudian, orang yang di sebut Kak Ida di telvon tadi sudah muncul, eh datang maksudnya.
Assalamu’alaikum, siapa namanya dek.” Kakak berjilbab besar itu mengulurkan tangannya kepadaku ( gaya bersalamannya juga aneh, peke di putar – putar segala ), kemudian merangkulku dengan lembut ( wah , wah, baru kenal kok udah berani cipika cipiki ya,, sereeemm dah!). aku memperkenalkan namaku serta kampung halamanku. Ya udah! Itu aja dulu.. ha ha.
Kak Fitri mengajakku ke sebuah rumah, kalau ngak salah namanya sih wisma. Tapi bentuknya sama seperti rumah, namanya kok ribet amat ya.
“Ini dek,tempatnya, silahkan dilihat – lihat dulu.” Sambil berjalan Kak Fitri mulai menjelaskan seluruh bagian rumahnya, mulai dari kamar tidur, kamar mandi, tempat sholat, ruang makan, tempat menjemur pakayan, dapur dan tempat sepatu. Semua kelebihan di wisma semuanya di jelaskan ( lalu kekurangannya kapan?).
“Bagaimana Nia? Apakah suka dengan kondisinya?” dengan spontan saya lansung menjawab, “ Suka kak.”
“Nah! Tinggal disini ada peraturannya dek, mungkin Nia bisa melihatnya disini , sambil menyodorkan sebuah kertas. Silahkan di baca dulu!” aku mulai membaca semua peraturan yang tertulis rapi di kertas itu, tapi kok ribet amat ya hidup disini, semuanya serba ada aturan, sampai – sampai makanpun ada aturannya, aku membacanya sambil ngomel ngomel melihat peraturan yang serba ketat itu. Saking shocknya keningku mulai keriput untuk memahaminya. “ kenapa Nia? Ada yang bisa kakak bantu?” secara spontan kak Fitri mulai menjelaskan semua aturannya, mulai dari cara bergaul, cara berpakayan ( wajib pakai kaus, rok, baju panjang, manset dan jilbab lapis ), cara makan, piket masak, piket kebersihan dan sebagainya, jika terdapat pelanggaran maka akan dikenakan Surat Peringatan. Bagi pelanggaran terberat ( Pacaran ) akan dikeluarkan dari wisma.
Alamakk..!! panjang dan cukup banyak aturan. Sebenarnya berat juga untuk menjalankannya. Karena tidak ada pilihan lain, secara terpaksa aku lansung katakan, “ Ya Kak, Insya Allah Nia sudah OK untuk tinggal di wisma.”
***
Semenjak hari itu, aku telah putuskan untuk tinggal di wisma. Walaupun dalam keadaan terpaksa. Satu persatu semua aturan itu aku jalankan walaupun masih ada yang terlanggar. Di awal masuk wisma, suatu hal yang membuat aku paling jijik adalah “Tradisi makan pakai talam”,aku benar – benar muak dengan aturan itu, ketika makan ada – ada saja yang membuat perut terasa mual, apalagi melihat tangan – tangan yang bergerak mengambil nasi serta dengan bebasnya memegang sambal. Isshh…! Terasa sangat jorok, apalagi ditambah dengan kuah sayur yang tergenang.
Ah! Sudahlah! Terlalu panjang untuk di tuliskan lembaran kisah yang tak menarik itu. Yang paling penting semua suka dan duka itu seolah – olah terasa indah. Disini ( wisma ) semua serba berjama’ah, saling menasehati, dan Insya Allah berlomba – lomba dalam kebaikan.
Sesuatu hal yang tak dapat aku sembunyikan, selama tinggal di wisma adalah nikmatnya ukhuwah. Semua aturan yang dulu amat rumit, sekarang ku jalani biasa saja. Tak ada yang memberatkan, dan yang tak kalah penting dan harus di ingat adalah Aku telah sesat, “ Tersesat ke jalan yang benar.”
“Dan aku benar – benar sadar, Allah punya rencana yang indah untuk hamba-Nya. Boleh jadi hamba-Nya akan di uji dengan berbagai ujian untuk mendapatkan sesuatu yang manis. Tetaplah berjuang, boleh jadi apa yang tidak engkau sukai itu adalah jalan yang terbaik yang Allah berikan dan Hidayah Allah itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi kamulah yang menjemputnya. Iya! Kamu! Gadis kampung!”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar