AYYASH DAN PUTRI KECIL
Namanya Ayyash, dia adalah anak
laki – laki yang paling manja di keluarga kerajaan hutan. Setiap harinya Ayyash
hanya bermain saja. Ayah dan Ibunya
membiarkan anak semata wayangnya
itu bebas berinteraksi dengan siapapun.
Kerajaan hutan memiliki taman
yang sangat luas, ditumbuhi dengan berbagai macam jenis tanaman belukar dan
beribu macam bunga yang indah.
Setiap hari Ayyash selalu membawa
setangkai bunga kohana kecil yang unik
ke kamarnya, namun kejadian aneh itu terulang lagi. Bunga kecil yang tak pernah
layu itu menghilang . “Ayah…! Ibu…! Kan Ayyash sudah bilang, jangan pernah ambil
bunga kecil di kamar Ayyash!” serunya. Ayyash berteriak – teriak di kamarnya.
Karena bunga kecil itu sering hilang, sedangkan di taman sudah mulai langka.
Suatu pagi Ayyash bangun dari
tidurnya. Matahari sepertinya malu – malu untuk mengeluarkan cahayanya yang
indah. Karena malas, Ayyash masih terbaring di atas ranjang empuknya itu.
Matanya fokus ke balik tirai jendela yang terbuka. Disamping jendela itu ada
lobang kecil yang belum pernah di perbaiki ayahnya semenjak Ayyash tidur dikamar itu. Ia melihat
cahaya kecil keluar dari lobang itu.
Ayyash menarik selimutnya karena
ketakutan. Dari celah – celah selimut itu, Ayyash masih memberanikan diri untuk
mengintip cahaya putih yang keluar dari lubang kecil. Ayyash melihat dengan mata
kepalanya sendiri, seorang gadis kecil berjalan menepi ke arah jendela dan
mengambil bunga kohana dengan cepat. Belum sempat berbicara, gadis kecil itu
menghilang sekejap mata.
Dengan bergegas, gadis kecil itu
membawa bunga kohana keluar dari jendela dan berseluncur di atas dahan – dahan
semak belukar. Ayyash berlari ke jendela, namun ia tak menemukan gadis kecil
itu lagi. “Wah…! Aku mimpi kali ya! Mana ada gadis kecil seperti kurcaci itu di
zaman sekarang.” Ujarnya sambil menggaruk – garuk kepala.
Gadis kecil itu berlari dengan
cepat membawa satangkai bunga kohana. Dua ekor jangkrik melompat – lompat
hendak merebut bunga kohana dari genggaman gadis kecil . Tap! Tap! Tap! Suara
sepatu gadis itu dengan keras menghantam bebatuan kecil, sehingga membuat
jakrik menghindar.
“Mama! Mama! Raissa mendapatkan
Bunga kohana lagi,” ujarnya.
Ibu Raisa keluar dan mengambil
bunga kohana dari tangan gadis kecil itu. “ Alhamdulillah, kamu luar biasa nak,
syukurlah kita bisa makan hari ini.” Ibu Raissa bergegas lari kedapur dan
memasak bunga kohana itu untuk keluarga mereka.
“Bu! Tadi saat Raissa mengambil
bunga kohana di kamar manusia itu, sepertinya mereka tahu Bu,” ujarnya.
“Apa..!! manusia itu tau kalau
kamu mengambil bunga kohana dari kamarnya? Gawat! Gawat! Ini sudah darurat. Kan
Ibu sudah bilang, kamu boleh keluar tapi jangan pernah memperlihatkan diri
kepada manusia.
“Papa! Papa! Bagaimana ini! sepertinya
kita harus pergi dari rumah ini!” Ibunya Raissa terlihat cemas dan
menghempaskan dirinya duduk di atas kursi kecil.
“Tenang Bu, sepertinya kita harus
mencari jalan keluarnya. Satu – satunya adalah kita harus pergi dari tempat
ini. Malam ini Papa akan berpetualang
untuk mengambil beberapa makanan di dapur manusia itu.”
“Papa mau pergi berpetualang?
Raissa ikut pa,”Tanya gadis kecil itu.
“Baiklah, Papa akan membawa kamu
berpetualang. Kamu harus mengambil gula di dapur manusia, papa akan membantumu.
Dengan sigap Raissa dan papanya
mulai melompat –lompat di atas dedaunan kecil dan memanjat semak – semak
belukar yang menjulang indah itu menuju ke arah dapur manusia. Sesampainya di
dapur, dengan menggunakan pengait kecil, Raissa memanjat ke atas toples
simpanan gula dan berhasil memasukkan gula putih ke dalam tasnya.
Kreet..! suara pintu terdengar
seperti ada yang membuka. Raissa melihat Ayyash, anak raja kerajaan hutan itu
masuk ke dapur. Raissa dan Ayahnya dengan cepat berlari ke arah jendela.
Potongan gula kecil yang di kantongi Raissa terjatuh dan terhempas ke lantai.
Ayyash memungut gula kecil itu, dan Ia melihat Raissa keluar dari jendela.
“Ayah! Apakah disini pernah hidup
makhluk kecil?”
“Ya! Kira – kira 100 tahun lalu
disini banyak manusia kecil. Bentuknya sama seperti kita, namun ukurannya sangatlah
kecil. Dulu Ayah dan Ibu pernah membuat
rumah kecil untuk tempat tinggal mereka. Akan tetapi mereka sudah tak terlihat
lagi. Apakah kau menemukannya anakku?”
“Sepertinya Aku melihatnya Ayah!”
“Jangan sakiti mereka ya!
Sepertinya populasi manusia kecil itu sudah berkurang. Bersahabatlah dengan
mereka. Ayah yakin merekalah yang mengambil bunga kohana di kamar Ayyash,
karena bunga di taman itu sengaja Ayah tanam untuk mereka.”
Kemuadian Raja kerajaan itu pergi
begitu saja meninggalkan Ayyash yang masih kebingungan. Ayyash masuk ke
kamarnya dan melihat ke arah lobang kecil itu. Ayyash menaruh sepotong gula
yang tak berhasil di bawa Raissa di depan lobang kecil itu.
“Bu! Sepertinya manusia itu baik
bu! Gula yang Raissa jatuhkan tadi malam di tarok manusia itu di depan lobang
kecil di kamarnya. Ini bu gulanya.” Raissa memberikan sepotong gula itu ke
tangan Ibunya.
“Tidak! Tidak! Ini bahaya besar!
besok pagi kita harus pergi dari rumah ini. Kita tidak boleh bertemu manusia.”
Mendengar perkataan Ibunya, Raissa
berlari keluar rumahnya dan menuju ke taman. Seekor kucing mendekati Raissa dan
berusaha untuk mecengkramnya. Raissa berlari ketakutan sehingga ia melompat ke
atas dedaunan dan memanjat semak belukar.
Ayyash sedang duduk di depan
jendela kamarnya sambil melihat ke arah langit yang di penuhi bintang. Raissa
berteriak minta tolong dari luar jendela.
Ayyash tertegun melihat gadis
kecil itu dan lansung membukakan jendela kamarnya. Raissa berlari dan
bersembunyi di balik baju Ayyash tanpa rasa takut. Seekor kucing peliharaan
Ayyash muncul di depan jendela. Ayyash mengambil kucing itu dan mengelusnya.
Akan tetapi mata kucingnya masih saja mencari sesosok makhluk incarannya itu.
Ayyash mengeluarkan kucingnya
dengan paksa dari kamar karena melihat gadis kecil itu bersembunyi di balik
bajunya.
“Hellow..! kucingnya sudah
pergi,” ujarnya. Raissa keluar dari balik baju Ayyash dan hendak berlari keluar
jendela. Akan tetapi Ayyash dengan sigap menutup pintu jendela. Raissa
menggigil ketakutan.
“Aku tidak akan menyakitimu,
siapa namamu?” Ayyash mengulurkan tangannya ke arah Raissa. “ Ayo..! naiklah ke
tanganku, aku tidak akan menyakitimu.”
Dengan perlahan Raissa naik ke
tangan Ayyash. Ia masih terliat murung, Ayyash tersenyum kepadanya. “Siapa
namamu putri kecil?”
Raissa berusaha mengangkat
kepalanya. “Namaku Ra.. ra.. Raissa,” ujarnya dengan gagap.
“Namaku Ayyash, salam kenal putri
kecil. Aku tidak akan menyakitimu. Pulanglah! barangkali keluargamu sedang
mencarimu.” Dengan bergegas Raissa berlari keluar jendela dan menuju ke
kamarnya.
Kerajaan hutan sedang mengalami
musim hujan, Raissa dan keluarganya tidak bisa melanjutkan perjalanan untuk
pindah dan pergi dari rumah kerajaan itu, karena akan banyak katak, ular, dan
sejenis hewan lainnya yang berkeliaran di musim hujan yang akan mengancam nyawa
keluarga kecil mereka. Semenjak saat itu juga Raissa berusaha meyakinkan kedua
orang tuanya, bahwa manusia itu baik.
“Tidak Raissa! Tidak! Ibu dan
Ayah tidak akan membiarkanmu bergaul dengan manusia. Setelah musim hujan kita
akan pergi dari tempat ini. Dulu populasi kita banyak nak, tapi sekarang hanya
tinggal kau, ayah dan Ibu. Manusia – manusia itu telah meracun populasi kita dengan racun kecoa, dan bahkan
banyak saudaramu menjadi korban mesin penyedot serangga.”
Raissa seolah – olah merasa gagal
untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Namun ia sering berkunjung ke kamar Ayyash
untuk mendapatkan berbagai jenis makanan. Raissa membawa makanan itu kepada
Ibunya, sambil berharap keluarganya akan berdamai dengan manusia.
“Mulai dari detik ini, kamu tidak
boleh keluar Raissa! Kamu jangan mudah percaya dengan manusia, mereka punya
seribu macam tipu muslihat untuk menjebak kita. Ibu akan menjagamu di kamar.
Untuk kedepannya Ayah akan mencarikan kita makanan.”
Seminggu berlalu, musim penghujan
tak kunjung berhenti. Persediaan makanan meraka sudah mulai habis. Sedangkan
Ayah Raissa tak dapat keluar, karena satu – satunya celah tempat mereka keluar
di huni oleh beberapa katak.
Ayyash tak lagi melihat Raissa,
ia bergegas berlari ke gudang dan mengambil payung. Ayyash berjalan menuju ke
taman di samping kerajaan. “Raissa! Raissa! Kamu dimana?” ujarnya sambil
berteriak – teriak di antara lobang yang ada disamping kerajaan. Ia berharap
Raissa mendengar teriakannya.
“Apakah Raissa dan keluarganya telah
punah? Ah! Itu tidak mungkin.” Ayyash masih terus mondar – mandir di taman
samping kerajaan.
“Bu! Pe’rsediaan makanan kita
sudah habis. Apakah Ibu tak sayang pada Raissa. Izinkan Raissa untuk bertemu
manusia itu Bu. Mereka baik pada Raissa, dan kita bisa hidup dengan tenang dan
mendapatkan banyak makanan Bu.”
Ibu Raissa tak dapat berkata apa
– apa lagi, Akhirnya Raissa mendapatkan izin untuk keluar dari rumahnya. Dengan
sangat hati – hati Raissa berjalan di antara katak yang tertidur dengan pulas.
Ia berlari menuju ke kaki Ayyash dan berusaha memanjat ke kerah bajunya.
“Hei! Kamu mencariku?” tanyanya.
“Astagfirullah!” Ayyash
terperanjak kaget melihat Raissa putri kecil itu sudah berada di pundaknya.
“Kamu kemana saja? Apakah kamu
dan keluargamu mendapat makanan?”
Raissa tidak menjawab pertanyaan
Ayyash. “Baiklah, aku akan memberikanmu
makanan dan mengantarkanmu ke pintu rumahmu.”
Setelah mendapatkan makanan,
Raissa di antar ke lobang kecil tempat tinggal mereka. Selama musim hujan
Raissa dan keluarganya makan dari hasil pemberian Ayyash.
“Bu! Sudah hampir satu bulan
musim hujan datang, dan semenjak itu juga kita makan dari hasil pemberian
manusia. ‘Besok pagi kita akan memenjat ke semak – semak belukar di samping
kamar Ayyash,’ kata ayahnya. ‘Kita harus menemui mereka walaupun masih dalam
keadaan hujan deras. Ayah akan berusaha untuk mengusir jangkrik dan katak yang
menghalangi kita untuk keluar dari rumah ini.”
Keesokan harinya Raissa dan
keluarganya berusaha untuk keluar rumah, mereka berlari dengan cepat dan
bergantungan di antara semak semak belukar menuju ke kamar Ayyash. Sesampainya
di jendela kamar, Ayyash menyambut mereka dengan hangat dan memberikan beberapa
potong makanan.
Ayyash mengulurkan tangannya,
Raissa dan keluarganya naik dan duduk di atas tangan Ayyash.
“Ayah! Ibu! Ayyash mau bicara,”
ujarnya. Orang tua Ayyash bergegas masuk ke kamar Ayyash.
“Ada apa nak? Apakah kamu
membutuhkan sesuatu?”
Ayyash tak menjawab pertanyaaan
kedua orang tuanya. Secara spontan Ayyash mengacungkan tangannya kepada Ayah
dan Ibunya untuk memperlihatkan apa yang ada di tanggannnya. Ayyash
memperkenalkan Putri kecil Raissa dan keluarga kecil mereka kepada Ayahnya.
Semenjak hari itu Raissa dan
keluarganya tinggal di dalam istana kecil di dalam kerajaan. Istana kecil itu
dilengkapi dengan berbagai pernak – pernik isi rumah layaknya tempat tinggal
manusia.
“Raissa! Raissa! Ayah membuatkan
ramuan khusus pengecil badan. Kita bisa mengajak Ayyash dan keluarganya untuk berpetualang.
Sekarang kamu tawarkan ramuan ini kepada mereka ya,” ujar Papa Raissa.
Raissa mengambil ramuan itu dan
memberikan kepada keluarga Ayyash. Sejak hari itu, kerajaan hutan sering
berpetualang dan melakukan perjalan luar biasa bersama putri kecil. Mereka
bermain dengan girang, molompat di antara dedaunan semak belukar, memakan bunga
kohana, serta memerangi katak, jangkrik, ular, dan binatang lainnya bersama
keluarga kerajaan.
“Sungguh! Ini adalah perjalanan
yang luar biasa yang pernah Ayyash rasakan Ayah! Apalagi bertemu dengan putri
kecil dan keluarganya.” Kedua orang tua Ayyash hanya tersenyum saja menyaksikan
kegembiraan yang dirasakan oleh putra semata wayangnya itu.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar